Sabtu, 07 Februari 2015

Mendidik SQ Anak menurut Nabi Muhammad SAW

http://jasapenulisan-karyailmiahindonesia.blogspot.com/


Mendidik SQ Anak menurut Nabi Muhammad SAW

PENDAHULUAN
BAB I MEMBANGUN KECERDASAN SPIRITUAL ANAK
  1. Apa Itu Spiritualitas
  2. Apa itu Kecerdasan (Inteligensi)
  3. Apa saja Jenis-jenis Kecerdasan
  4. Kecerdasan Spiritual
  5. Kecerdasan Atas Dasar Spiritualitas Menurut Para Pakar
  6. Berbedakah Kecerdasan Spiritual dengan Sikap Religius

BAB II MENGENALKAN KECERDASAN SPIRITUAL KEPADA ANAK
  1. Mengenal Nilai-nilai Spiritual
  2. Mengartikan Kecerdasan Spiritual Secara Makna
  3. Pengaruh Kecerdasan Spiritual Terhadap Perkembangan Anak
  4. Apakah Anak Anda Telah Cerdas Secara Spiritual?

BAB III PENDIDIKAN KELUARGA BERBASIS  KECERDASAN SPRITUAL
  1. Hakikat Pendidikan dalam Islam
  2. Pendidikan SQ ala Sekolah Muhammad
  3. Pendekatan Yang Menyeluruh Holistik Dalam Pendidikan Anak

BAB IV MELEJITKAN KECERDASAN SPIRITUAL ANAK
A.    Bagaimana Mendidik sesuai dengan Kebutuhan Fitrah.
B.    Perkembangan Dan Pertumbuhan nilai Spritual Anak
C.    Mengajarkan Anak Mengenal Tuhan
D.    Kenalkan Nilai-nilai Ibadah, Muamalah, Akhlak
E.    Mengolah dan Memelihara Kecerdasan Spiritual Anak








MEMBANGUN KECERDASAN SPRITUAL
ANAK SEMENJAK DINI

PENDAHULUAN

Anak adalah masa depan, maka tidak jarang sebahagian orang tua juga mengatakan anak adalah aset kehidupan. Menyaksikan anak tumbuh dengan jiwa dan fisik yang sehat tentu menjadi harapan dan dambaan setiap orang tua. Apapun usaha yang dianggap bisa bermanfaat untuk kemajuan dan keberhasilan anak akan ditempuh dengan segala daya dan upaya.
Salah satu upaya tersebut adalah dengan pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal. Anak dan pendidikan dapat diibaratkan dua sisi dari satu mata uang. Keduanya tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Membiarkan anak-anak tanpa pendidikan sama saja dengan membesarkan calon-calon monster yang sangat berbahaya dan mematikan bagi kehidupan masyarakat di masa depan. Sebaliknya, membesarkan anak dengan pendidikan yang benar dan tepat, tentu akan membentuk calon-calon manusia yang bermanfaat bagi manusia lain dan juga peradaban masa depan.
Kita sebagai orang tua tentu punya harapan, keberhasilan anak-anak kita adalah kebanggaan kita, sebaliknya kegagalan mereka tentu membuat kita ikut menanggung akibatnya. Tidak hanya sampai di dunia, di akhirat pun pasti kita akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT, apakah kita berhasil atau gagal dalam menjaga dan mendidik anak-anak kita.
Sebagai orang tua, kita mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan anak. Orang tua bertanggung jawab terhadap pemenuhan segala kebutuhan anak. Selain itu orang tua juga berperan sebagai guru pertama dan berperan penting dalam pembentukan sikap, kepercayaan, nilai dan tingkah laku anak. Peran orang tua harus berubah dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi sejalan dengan perkembangan anaknya.
Menjadikan anak sehat dan cerdas saja belum cukup untuk menjadi bekal dalam mengarungi kehidupan di masa yang akan datang di era pembangunan dan globalisasi seperti saat ini. Seseorang dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi setiap saat disekitarnya. Untuk  dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan, seseorang haruslah memiliki perangkat perilaku dan kepribadian yang memungkinkan baginya untuk berproses sesuai dengan tuntutan lingkungan. Tentunya perangkat perilaku dan kepribadian itu harus dibentuk sejak awal kehidupannya.
Salah satu bekal pendidikan penting tersebut adalah bekal spiritual. Tugas orang tualah sebagai pendidik utama dan pertama yang harus menanamkan spiritualitas ini kepada anak. Untuk itu dalam buku ini penulis mencoba menjelaskan bagaimana kita orang tua membangun kecerdasan spiritual anak, agar cita-cata mendapatkan anak saleh dunia akhirat dapat tercapai.




























BAB I


MEMBANGUN KECERDASAN SPIRITUAL ANAK


G.    Apa Itu Spiritualitas
Setiap orang tua tentu mengetahui, keluarga merupakan dunia pertama bagi seorang anak. Dan orang tua hendaknya juga harus mengetahui bahwa setiap rangsangan yang diterima seorang anak sejak kecil, yang dilakukan secara sadar dan terarah maupun tidak sengaja oleh orang tua, akan membawa pengaruh dan arah perkembangan anak dikelak kemudian hari. Tentu saja tumbuh kembang seorang anak menuju kedewasaan tidak hanya ditentukan oleh potensi anak, juga dipengaruhi oleh usaha yang dilakukan orang tua dalam membesarkan dan mendidik serta faktor lingkungan yang lebih luas dimana anak dibesarkan.
Sedangkan pengajaran di sekolah dengan sistem pendidikan saat ini lebih menekankan pada pemikiran kritis yang hanya mengarah pada perkembangan kecerdasan intelektual melalui pengetahuan, kemampuan analisis dan kemampuan sintetis, tetapi kurang memberikan perhatian pada kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang amat dibutuhkan anak dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan. Karena itu tidaklah cukup bila orang tua  yang mendambakan anak-anaknya menjadi anak yang sehat, cerdas, bermoral, berbudi pekerti luhur, ceria, mandiri dan kreatif hanya menyerahkan pendidikan mereka pada  pengajaran di sekolah saja.
Anak membutuhkan kesempatan yang lebih luas dari itu, seperti bersosialisasi dengan lingkungan yang lebih luas dan mendapat kegiatan untuk mengungkapkan fantasi serta potensi kreatifnya. Salah satu caranya adalah dengan membangun kecerdasan spiritual anak.
Belakangan ini semakin menjamur kelompok-kelompok studi atau sejenisnya yang menyatakan kelompoknya sebagai kelompok spiritual. Bahkan kata ’spiritual’ kini sudah semakin terdengar klise dengan terjadinya pergeseran makna dalam penggunaannya. Sebagai istilah, ia telah semakin dikacaukan dengan berbagai bentuk kanuragan, “pengeleakan”, “pengiwe”, praktek pedukunan, praktek medium, cenayang “pepeluasan”, atau fenomena okultistik lainnya, bahkan sampai-sampai mendekati ketakhyulan.
Ironis memang, kata spiritual, kini semakin kehilangan spirit-nya. Bukan hanya karena pergeseran-pergeseran pemaknaan seperti itu, akan tetapi berbagai keterbatasan lahiriah dan naluriah, kecenderungan-kecenderungan serta pengkondisi-pengkondisi lainnya, telah menyulitkan kita untuk memahami spirit, sang jiwa, sang roh, sang Maha Pencipta yang justru merupakan isu utama dunia spiritual.
Apa itu spiritualitas? Secara etimologi kata spiritualitas berasal dari “sprit” dan berasal dari kata Latin “spiritus”, yang diantaranya berarti “roh, jiwa, sukma, kesadaran diri, wujud tak berbadan, nafas hidup, nyawa hidup.” Dalam perkembangannya, kata spirit diartikan secara lebih luas lagi. Para filosuf, mengkonotasikan “spirit” dengan;
1.    Kekuatan yang menganimasi dan memberi energi pada cosmos
2.    Kesadaran yang berkaitan dengan kemampuan, keinginan, dan intelegensi
3.    Makhluk immaterial
4.    Wujud ideal akal pikiran (intelektualitas, rasionalitas, moralitas, kesucian atau keilahian).
Dilihat dari bentuknya, spirit menurut para ahli, paling tidak ada tiga tipe:  spirit subyektif, spirit obyektif dan spirit obsolut. Spirit subyektif berkaitan dengan kesadaran, pikiran, memori, dan kehendak individu sebagai akibat pengabstraksian diri dalam relasi sosialnya. Spirit obyektif berkaitan dengan konsep fundamental kebenaran (right, recht), baik dalam pengertian legal maupun moral. Sementara spirit obsolut yang dipandang sebagai tingkat tertinggi spirit adalah sebagai bagian dari nilai seni, agama, dan filsafat.
Secara psikologik, spirit diartikan sebagai “soul” (ruh), suatu makhluk yang bersifat nir-bendawi (immaterial being). Spirit juga berarti makhluk adikodrati yang nir-bendawi. Karena itu dari perspektif psikologik, spiritualitas juga dikaitkan dengan berbagai realitas alam pikiran dan perasaan yang bersifat adikodrati, nir-bendawi, dan cenderung “timeless dan spaceless”. Termasuk jenis spiritualitas adalah Tuhan, jin, setan, hantu, roh-halus, nilai-moral, nilai-estetik dan sebagainya. Spiritualitas agama (religious spirituality, religious spiritualness) berkenaan dengan kualitas mental (kesadaran), perasaan, moralitas, dan nilai-nilai luhur lainnya yang bersumber dari ajaran agama. Spiritualitas agama bersifat Ilahiah, bukan bersifat humanistik lantaran berasal dari Tuhan.

H.   Apa itu Kecerdasan (Inteligensi)
Kecerdasan merupakan salah satu anugerah besar dari Allah SWT kepada manusia dan menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan kecerdasannya, manusia dapat terus menerus mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks, melalui proses berfikir dan belajar secara terus menerus.
Dalam pandangan psikologi, sesungguhnya hewan pun diberikan kecerdasan namun dalam kapasitas yang sangat terbatas. Oleh karena itu untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya lebih banyak dilakukan secara instingtif (naluriah). Berdasarkan temuan dalam bidang antropologi, kita mengetahui bahwa jutaan tahun yang lalu di muka bumi ini pernah hidup makhluk yang dinamakan Dinosaurus yaitu sejenis hewan yang secara fisik jauh lebih besar dan kuat dibandingkan dengan manusia. Namun saat ini mereka telah punah dan kita hanya dapat mengenali mereka dari fosil-fosilnya yang disimpan di musium-musium tertentu. Boleh jadi, secara langsung maupun tidak langsung, kepunahan mereka salah satunya disebabkan oleh faktor keterbatasan kecerdasan yang dimilikinya. Dalam hal ini, sudah sepantasnya manusia bersyukur kepada Allah SWT, meski secara fisik tidak begitu besar dan kuat, namun berkat kecerdasan yang dimilikinya hingga saat ini manusia ternyata masih dapat mempertahankan kelangsungan dan peradaban hidupnya.
Lantas, apa sesungguhnya kecerdasan itu? Sebenarnya hingga saat ini para ahli pun tampaknya masih mengalami kesulitan untuk mencari rumusan yang komprehensif tentang kecerdasan. Dalam hal ini, C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Sementara itu, Anita E. Woolfolk (1975) mengemukan bahwa menurut teori lama, kecerdasan meliputi tiga pengertian, yaitu :
1.    Kemampuan untuk belajar
2.    Keseluruhan pengetahuan yang diperoleh; dan
3.    Kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya.
Pada awalnya kajian tentang kecerdasan hanya sebatas kemampuan individu yang berhubungan dengan aspek kognitif atau biasa disebut Kecerdasan Intelektual yang bersifat tunggal, sebagaimana yang dikembangkan oleh Charles Spearman (1904) dengan teori “Two Factor”-nya, atau Thurstone (1938) dengan teori “Primary Mental Abilities”. Dari kajian ini, menghasilkan pengelompokkan kecerdasan manusia yang dinyatakan dalam bentuk Inteligent Quotient (IQ), yang dihitung berdasarkan perbandingan antara tingkat kemampuan mental (mental age) dengan tingkat usia (chronological age), merentang mulai dari kemampuan dengan kategori Ideot sampai dengan Genius.
Istilah IQ mula-mula diperkenalkan oleh Alfred Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal abad ke-20. Kemudian, Lewis Terman dari Universitas Stanford berusaha membakukan tes IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan mempertimbangkan norma-norma populasi sehingga selanjutnya dikenal sebagai tes Stanford-Binet.
Pendapat lain mengatakan kecerdasan (inteligensi) adalah hal-hal yang menunjukkan kemampuan untuk menerima, memahami dan menggunakan simbol-simbol sehingga mampu menyelesaikan masalah-masalah yang abstrak, misalnya kecerdasan verbal, kecerdasan spasial, kecerdasan sosial dan banyak  lagi. Kecerdasan verbal menunjukkan kemampuan untuk mengerti dan menggunakan kata-kata. Kecerdasan spasial adalah kemampuan mengerti dan menggunakan obyek dalam ruang, sementara kecerdasan sosial adalah kemampuan untuk mengerti dan menggunakan informasi sosial.
Kecerdasan (Inteligensi) secara umum dipahami pada dua tingkat yakni
1.    Kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran.
2.    Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah.
Jadi dalam bahasa yang sederhana dapat dipahami bahwa kecerdasan adalah pemandu bagi kita untuk mencapai sasaran-sasaran kita secara efektif dan efisien. Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas, akan mampu memilih strategi pencapaian sasaran yang lebih baik dari orang yang kurang cerdas. Artinya orang yang cerdas mestinya lebih sukses dari orang yang kurang cerdas.
Tingkat kecerdasan (Intelegensi) bawaan ditentukan baik oleh bakat bawaan yaitu berdasarkan gen yang diturunkan dari orang tuanya maupun oleh faktor lingkungan, ini termasuk semua pengalaman dan pendidikan yang pernah diperoleh seseorang, terutama tahun-tahun pertama dari kehidupan yang mempunyai dampak kuat terhadap kecerdasan seseorang.
Secara umum intelegensi dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.    Kemampuan untuk berpikir abstrak.
2.    Kemampuan menangkap hubungan-hubungan dan untuk belajar.
3.    Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru.
Ketiga rumusan ini menunjukkan aspek yang berbeda dari intelegensi, namun ketiga aspek tersebut saling berkaitan. Keberhasilan dalam menyesuaikan diri seseorang tergantung dari kemampuannya untuk berpikir dan belajar. Sejauh mana seseorang dapat belajar dari pengalaman-pengalamannya akan menentukan penyesuaian dirinya. Ungkapan-ungkapan pikiran, cara berbicara, cara mengajukan pertanyaan, kemampuan memecahkan masalah, dan lain sebagainya dapat mencerminkan kecerdasan. Akan tetapi, diperlukan waktu lama untuk dapat menyimpulkan kecerdasan seseorang berdasarkan pengamatan perilakunya, dan cara demikian belum tentu tepat pula.
Meningkatkan kecerdasan dapat dilakukan melalui proses pendidikan secara menyeluruh termasuk mereka yang memiliki kelainan fisik atau mental serta mereka yang mengalami kekurangan beruntungan dibidang sosial atau ekonomi. Kecerdasan bermakna luas. Robert J. Sternberg (1981), seorang ahli psikologi, mengartikan kecerdasan sebagai kemampuan untuk:
1.    Belajar, menyesuaikan diri terhadap lingkungan,
2.    Mengadaptasikan diri terhadap situasi baru dan
3.    Memanfaatkan pengalaman.
Agaknya sulit untuk membuat suatu definisi kecerdasan yang dapat mewadai semua sudut pandang dan semua kepentingan. Dalam konteks pembelajaran, pemahaman atas kecerdasan yang dimiliki oleh setiap pembelajar sangat diperlukan untuk mengatasi berbagai masalah pembelajaran seperti apa yang perlu dipelajari dan bagaimana cara mempelajarinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar