http://jasapenulisan-karyailmiahindonesia.blogspot.com/
Mendidik SQ Anak menurut Nabi Muhammad SAW
PENDAHULUAN
BAB I MEMBANGUN
KECERDASAN SPIRITUAL ANAK
- Apa Itu Spiritualitas
- Apa itu Kecerdasan (Inteligensi)
- Apa saja Jenis-jenis Kecerdasan
- Kecerdasan Spiritual
- Kecerdasan Atas Dasar Spiritualitas Menurut Para Pakar
- Berbedakah Kecerdasan Spiritual dengan Sikap Religius
BAB II
MENGENALKAN KECERDASAN SPIRITUAL KEPADA ANAK
- Mengenal Nilai-nilai Spiritual
- Mengartikan Kecerdasan Spiritual Secara Makna
- Pengaruh Kecerdasan Spiritual Terhadap Perkembangan Anak
- Apakah Anak Anda Telah Cerdas Secara Spiritual?
BAB III
PENDIDIKAN KELUARGA BERBASIS KECERDASAN
SPRITUAL
- Hakikat Pendidikan dalam Islam
- Pendidikan SQ ala Sekolah Muhammad
- Pendekatan Yang Menyeluruh Holistik Dalam Pendidikan Anak
BAB IV
MELEJITKAN KECERDASAN SPIRITUAL ANAK
A.
Bagaimana Mendidik sesuai dengan
Kebutuhan Fitrah.
B.
Perkembangan Dan
Pertumbuhan nilai Spritual Anak
C.
Mengajarkan Anak
Mengenal Tuhan
D.
Kenalkan
Nilai-nilai Ibadah, Muamalah, Akhlak
E.
Mengolah dan Memelihara Kecerdasan Spiritual Anak
MEMBANGUN KECERDASAN SPRITUAL
ANAK SEMENJAK DINI
PENDAHULUAN
Anak adalah masa depan, maka tidak jarang sebahagian
orang tua juga mengatakan anak adalah aset kehidupan. Menyaksikan anak tumbuh
dengan jiwa dan fisik yang sehat tentu menjadi harapan dan dambaan setiap orang
tua. Apapun usaha yang dianggap bisa bermanfaat untuk kemajuan dan keberhasilan
anak akan ditempuh dengan segala daya dan upaya.
Salah satu upaya tersebut adalah dengan pendidikan, baik
pendidikan formal maupun informal. Anak dan pendidikan dapat diibaratkan dua
sisi dari satu mata uang. Keduanya tidak dapat dipisahkan antara satu dengan
yang lainnya. Membiarkan anak-anak tanpa pendidikan sama saja dengan
membesarkan calon-calon monster yang sangat berbahaya dan mematikan bagi
kehidupan masyarakat di masa depan. Sebaliknya, membesarkan anak dengan
pendidikan yang benar dan tepat, tentu akan membentuk calon-calon manusia yang
bermanfaat bagi manusia lain dan juga peradaban masa depan.
Kita sebagai orang tua tentu punya harapan, keberhasilan
anak-anak kita adalah kebanggaan kita, sebaliknya kegagalan mereka tentu
membuat kita ikut menanggung akibatnya. Tidak hanya sampai di dunia, di akhirat
pun pasti kita akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT, apakah kita
berhasil atau gagal dalam menjaga dan mendidik anak-anak kita.
Sebagai orang tua, kita mempunyai peran yang sangat
penting dalam kehidupan anak. Orang tua bertanggung jawab terhadap pemenuhan
segala kebutuhan anak. Selain itu orang tua juga berperan sebagai guru pertama
dan berperan penting dalam pembentukan sikap, kepercayaan, nilai dan tingkah
laku anak. Peran orang tua harus berubah dan beradaptasi dengan perubahan yang
terjadi sejalan dengan perkembangan anaknya.
Menjadikan anak sehat dan cerdas saja belum cukup untuk
menjadi bekal dalam mengarungi kehidupan di masa yang akan datang di era
pembangunan dan globalisasi seperti saat ini. Seseorang dituntut untuk mampu
menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi setiap saat
disekitarnya. Untuk dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap
lingkungan, seseorang haruslah memiliki perangkat perilaku dan kepribadian yang
memungkinkan baginya untuk berproses sesuai dengan tuntutan lingkungan.
Tentunya perangkat perilaku dan kepribadian itu harus dibentuk sejak awal
kehidupannya.
Salah satu bekal pendidikan penting tersebut adalah bekal
spiritual. Tugas orang tualah sebagai pendidik utama dan pertama yang harus
menanamkan spiritualitas ini kepada anak. Untuk itu dalam buku ini penulis
mencoba menjelaskan bagaimana kita orang tua membangun kecerdasan spiritual
anak, agar cita-cata mendapatkan anak saleh dunia akhirat dapat tercapai.
BAB I
MEMBANGUN KECERDASAN SPIRITUAL ANAK
G.
Apa Itu
Spiritualitas
Setiap orang tua
tentu mengetahui, keluarga merupakan dunia pertama bagi seorang anak. Dan orang
tua hendaknya juga harus mengetahui bahwa setiap rangsangan yang diterima
seorang anak sejak kecil, yang dilakukan secara sadar dan terarah maupun tidak
sengaja oleh orang tua, akan membawa pengaruh dan arah perkembangan anak
dikelak kemudian hari. Tentu saja tumbuh kembang seorang anak menuju kedewasaan
tidak hanya ditentukan oleh potensi anak, juga dipengaruhi oleh usaha yang
dilakukan orang tua dalam membesarkan dan mendidik serta faktor lingkungan yang
lebih luas dimana anak dibesarkan.
Sedangkan
pengajaran di sekolah dengan sistem pendidikan saat ini lebih menekankan
pada pemikiran kritis yang hanya mengarah pada perkembangan kecerdasan
intelektual melalui pengetahuan, kemampuan analisis dan kemampuan sintetis,
tetapi kurang memberikan perhatian pada kecerdasan emosional dan kecerdasan
spiritual yang amat dibutuhkan anak dalam penyesuaian diri terhadap
lingkungan. Karena itu tidaklah cukup bila orang tua yang mendambakan anak-anaknya menjadi anak
yang sehat, cerdas, bermoral, berbudi pekerti luhur, ceria, mandiri dan kreatif
hanya menyerahkan pendidikan mereka pada
pengajaran di sekolah saja.
Anak membutuhkan
kesempatan yang lebih luas dari itu, seperti bersosialisasi dengan lingkungan
yang lebih luas dan mendapat kegiatan untuk mengungkapkan fantasi serta potensi
kreatifnya. Salah satu caranya adalah dengan membangun kecerdasan spiritual
anak.
Belakangan ini
semakin menjamur kelompok-kelompok studi atau sejenisnya yang menyatakan
kelompoknya sebagai kelompok spiritual. Bahkan kata ’spiritual’ kini sudah
semakin terdengar klise dengan terjadinya pergeseran makna dalam penggunaannya.
Sebagai istilah, ia telah semakin dikacaukan dengan berbagai bentuk kanuragan,
“pengeleakan”, “pengiwe”, praktek pedukunan, praktek medium, cenayang
“pepeluasan”, atau fenomena okultistik lainnya, bahkan sampai-sampai mendekati
ketakhyulan.
Ironis memang,
kata spiritual, kini semakin kehilangan spirit-nya. Bukan hanya karena
pergeseran-pergeseran pemaknaan seperti itu, akan tetapi berbagai keterbatasan
lahiriah dan naluriah, kecenderungan-kecenderungan serta
pengkondisi-pengkondisi lainnya, telah menyulitkan kita untuk memahami spirit,
sang jiwa, sang roh, sang Maha Pencipta yang justru merupakan isu utama dunia
spiritual.
Apa itu
spiritualitas? Secara etimologi kata spiritualitas berasal dari “sprit”
dan berasal dari kata Latin “spiritus”, yang diantaranya berarti “roh, jiwa,
sukma, kesadaran diri, wujud tak berbadan, nafas hidup, nyawa hidup.” Dalam
perkembangannya, kata spirit diartikan secara lebih luas lagi. Para filosuf,
mengkonotasikan “spirit” dengan;
1.
Kekuatan yang
menganimasi dan memberi energi pada cosmos
2.
Kesadaran yang
berkaitan dengan kemampuan, keinginan, dan intelegensi
3.
Makhluk
immaterial
4.
Wujud ideal akal
pikiran (intelektualitas, rasionalitas, moralitas, kesucian atau keilahian).
Dilihat dari
bentuknya, spirit menurut para ahli, paling tidak ada tiga tipe: spirit subyektif, spirit obyektif dan spirit
obsolut. Spirit subyektif berkaitan dengan kesadaran, pikiran, memori, dan
kehendak individu sebagai akibat pengabstraksian diri dalam relasi sosialnya.
Spirit obyektif berkaitan dengan konsep fundamental kebenaran (right,
recht), baik dalam pengertian legal maupun moral. Sementara spirit
obsolut yang dipandang sebagai tingkat tertinggi spirit adalah sebagai bagian
dari nilai seni, agama, dan filsafat.
Secara
psikologik, spirit diartikan sebagai “soul” (ruh), suatu
makhluk yang bersifat nir-bendawi (immaterial being). Spirit juga berarti
makhluk adikodrati yang nir-bendawi. Karena itu dari perspektif psikologik,
spiritualitas juga dikaitkan dengan berbagai realitas alam pikiran dan perasaan
yang bersifat adikodrati, nir-bendawi, dan cenderung “timeless
dan
spaceless”. Termasuk jenis spiritualitas adalah Tuhan, jin, setan,
hantu, roh-halus, nilai-moral, nilai-estetik dan sebagainya. Spiritualitas
agama (religious spirituality, religious spiritualness)
berkenaan dengan kualitas mental (kesadaran), perasaan, moralitas, dan
nilai-nilai luhur lainnya yang bersumber dari ajaran agama. Spiritualitas agama
bersifat Ilahiah, bukan bersifat humanistik lantaran berasal dari Tuhan.
H.
Apa itu
Kecerdasan (Inteligensi)
Kecerdasan
merupakan salah satu anugerah besar dari Allah SWT kepada manusia dan
menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk
lainnya. Dengan kecerdasannya, manusia dapat terus menerus mempertahankan dan
meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks, melalui proses berfikir
dan belajar secara terus menerus.
Dalam pandangan
psikologi, sesungguhnya hewan pun diberikan kecerdasan namun dalam kapasitas
yang sangat terbatas. Oleh karena itu untuk mempertahankan keberlangsungan
hidupnya lebih banyak dilakukan secara instingtif (naluriah). Berdasarkan
temuan dalam bidang antropologi, kita mengetahui bahwa jutaan tahun yang lalu
di muka bumi ini pernah hidup makhluk yang dinamakan Dinosaurus
yaitu sejenis hewan yang secara fisik jauh lebih besar dan kuat dibandingkan
dengan manusia. Namun saat ini mereka telah punah dan kita hanya dapat
mengenali mereka dari fosil-fosilnya yang disimpan di musium-musium tertentu.
Boleh jadi, secara langsung maupun tidak langsung, kepunahan mereka salah
satunya disebabkan oleh faktor keterbatasan kecerdasan yang dimilikinya. Dalam
hal ini, sudah sepantasnya manusia bersyukur kepada Allah SWT, meski secara
fisik tidak begitu besar dan kuat, namun berkat kecerdasan yang dimilikinya
hingga saat ini manusia ternyata masih dapat mempertahankan kelangsungan dan
peradaban hidupnya.
Lantas, apa
sesungguhnya kecerdasan itu? Sebenarnya hingga saat ini para ahli pun tampaknya
masih mengalami kesulitan untuk mencari rumusan yang komprehensif tentang
kecerdasan. Dalam hal ini, C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian kecerdasan
sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan
diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif.
Sementara itu, Anita E. Woolfolk (1975) mengemukan bahwa menurut teori lama,
kecerdasan meliputi tiga pengertian, yaitu :
1. Kemampuan
untuk belajar
2. Keseluruhan
pengetahuan yang diperoleh; dan
3.
Kemampuan
untuk beradaptasi dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya.
Pada awalnya
kajian tentang kecerdasan hanya sebatas kemampuan individu yang berhubungan
dengan aspek kognitif atau biasa disebut Kecerdasan
Intelektual yang bersifat tunggal, sebagaimana yang dikembangkan oleh
Charles Spearman (1904) dengan teori “Two Factor”-nya, atau
Thurstone (1938) dengan teori “Primary Mental Abilities”.
Dari kajian ini, menghasilkan pengelompokkan kecerdasan manusia yang dinyatakan
dalam bentuk Inteligent
Quotient (IQ), yang dihitung berdasarkan perbandingan antara
tingkat kemampuan mental (mental age) dengan
tingkat usia (chronological age),
merentang mulai dari kemampuan dengan kategori Ideot sampai dengan Genius.
Istilah IQ
mula-mula diperkenalkan oleh Alfred Binet, ahli psikologi dari Perancis pada
awal abad ke-20. Kemudian, Lewis Terman dari Universitas Stanford berusaha
membakukan tes IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan mempertimbangkan
norma-norma populasi sehingga selanjutnya dikenal sebagai tes Stanford-Binet.
Pendapat lain
mengatakan kecerdasan (inteligensi) adalah hal-hal yang menunjukkan kemampuan
untuk menerima, memahami dan menggunakan simbol-simbol sehingga mampu
menyelesaikan masalah-masalah yang abstrak, misalnya kecerdasan verbal,
kecerdasan spasial, kecerdasan sosial dan banyak lagi. Kecerdasan verbal
menunjukkan kemampuan untuk mengerti dan menggunakan kata-kata. Kecerdasan spasial
adalah kemampuan mengerti dan menggunakan obyek dalam ruang, sementara
kecerdasan sosial adalah kemampuan untuk mengerti dan menggunakan informasi
sosial.
Kecerdasan (Inteligensi) secara umum dipahami pada dua
tingkat yakni
1.
Kecerdasan
sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan
kesadaran.
2.
Kecerdasan
sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita
hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun
bertambah.
Jadi dalam
bahasa yang sederhana dapat dipahami bahwa kecerdasan adalah pemandu bagi kita
untuk mencapai sasaran-sasaran kita secara efektif dan efisien. Dengan kata
lain, orang yang lebih cerdas, akan mampu memilih strategi pencapaian sasaran
yang lebih baik dari orang yang kurang cerdas. Artinya orang yang cerdas
mestinya lebih sukses dari orang yang kurang cerdas.
Tingkat
kecerdasan (Intelegensi) bawaan ditentukan baik oleh bakat bawaan yaitu
berdasarkan gen yang diturunkan dari orang tuanya maupun oleh faktor
lingkungan, ini termasuk semua pengalaman dan pendidikan yang pernah diperoleh
seseorang, terutama tahun-tahun pertama dari kehidupan yang mempunyai dampak
kuat terhadap kecerdasan seseorang.
Secara umum intelegensi dapat dirumuskan sebagai berikut
:
1.
Kemampuan untuk
berpikir abstrak.
2.
Kemampuan
menangkap hubungan-hubungan dan untuk belajar.
3.
Kemampuan untuk
menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru.
Ketiga rumusan
ini menunjukkan aspek yang berbeda dari intelegensi, namun ketiga aspek
tersebut saling berkaitan. Keberhasilan dalam menyesuaikan diri seseorang
tergantung dari kemampuannya untuk berpikir dan belajar. Sejauh mana seseorang
dapat belajar dari pengalaman-pengalamannya akan menentukan penyesuaian
dirinya. Ungkapan-ungkapan pikiran, cara berbicara, cara mengajukan pertanyaan,
kemampuan memecahkan masalah, dan lain sebagainya dapat mencerminkan
kecerdasan. Akan tetapi, diperlukan waktu lama untuk dapat menyimpulkan
kecerdasan seseorang berdasarkan pengamatan perilakunya, dan cara demikian
belum tentu tepat pula.
Meningkatkan
kecerdasan dapat dilakukan melalui proses pendidikan secara menyeluruh termasuk
mereka yang memiliki kelainan fisik atau mental serta mereka yang mengalami
kekurangan beruntungan dibidang sosial atau ekonomi. Kecerdasan bermakna luas.
Robert J. Sternberg (1981), seorang ahli psikologi, mengartikan kecerdasan
sebagai kemampuan untuk:
1.
Belajar,
menyesuaikan diri terhadap lingkungan,
2.
Mengadaptasikan
diri terhadap situasi baru dan
3.
Memanfaatkan
pengalaman.
Agaknya sulit
untuk membuat suatu definisi kecerdasan yang dapat mewadai semua sudut pandang
dan semua kepentingan. Dalam konteks pembelajaran, pemahaman atas kecerdasan
yang dimiliki oleh setiap pembelajar sangat diperlukan untuk mengatasi berbagai
masalah pembelajaran seperti apa yang perlu dipelajari dan bagaimana cara
mempelajarinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar