PENDAHULUAN
BAB I: Gambaran Umum
- Letak Geografis Indonesia
- Sejarah Gunung-gunung Di Indonesia
- Keadaan Gunung Di Indonesia Terkini
- Keadaan Gunung Bawah Laut Indonesia
BAB I:
Teori Pembentukan Gunung Api Bawah Laut
- Deformasi Dan Pembentukan Gunung Atau Pegunungan
- Teori Pembentukan Gunung Berapi
- Teori Lempeng Tektonik
- Teori Pengerutan Kulit Bumi
- Fungsi Gunung
BAB II: Fenomena Gunung Berapi Di
Bawah Laut
·
Jenis Gunung Laut
BAB III: Menguak Potensi Dasar
Laut Indonesia
·
Ekspedisi Dasar Laut
·
Ekspedisi IASSHA
·
Ekspedisi lanjutan
BAB IV: Gunung Berapi Bawah Laut Di
Indonesia
1.
Perairan Sangihe Talaud
·
Penelitian
·
Biota Berwarna Mencolok
·
600 spesies
·
Robot Bawah Laut Berkamera
2.
Gunung Api Raksasa Bawah
Laut Sumatera
·
Gunung Raksasa di Bawah Laut
Sumatera Ada Dua
·
Kepentingan Para Ahli
·
Penelitian Para Ahli
3.
Banua Wuhu
PENUTUP
A. Kesimpulan
PENDAHULUAN
Penemuan gunung
berapi di bawah laut, yang akhir-akhir ini banyak diberitakan, di bawah
perairan Indonesia seperti mengungkap atau menguak misteri yang selama ini
masyarakat Indonesia dan dunia tidak tahu sama sekali tentang keberadaan gunung
tersebut. Di mana dengan teknologi yang digunakan oleh para peneliti merupakan
teknologi yang sangat canggih. Penelitian tersebut dilakukan oleh ekspedisi
yang dilakukan ilmuan Indonesia bersama ilmuan Amerika Serikat, penelitian tersebut dilakukan National Oceanic and Atmospheric Administration
(NOAA) yang berada di bawah naungan Departemen Perdagangan AS. Sehingga dengan
ditemukannya gunung berapi tersebut, dapat menggegerkan masyarakat bukan hanya
di Indonesia saja tetapi juga di dunia.
Seperti kita
ketahui, memang terdapat gunung di bawah laut. Dan itu dikenal dengan sebutan
Gunung Laut. Pemberitaan mengenai ditemukannya gunung berapi bawah laut
tersebut, banyak menarik perhatian masyarakat yang merasa takjub sekaligus
cemas mewarnai masyarakat yang berada lebih dekat dengan lokasi gunung berapi
tersebut.
Penjelasan ahli, bahwa gunung berapi adalah
bukaan, atau rekahan, pada permukaan bumi yang mengeluarkan gas, abu, dan batu
cair yang panas (magma) yang bebas bergerak jauh di bawah permukaan bumi. Dengan
adanya aktivitas magma tersebut maka lambat-laun dalam waktu yang sangat lama
maka terbentuklah sebuah gunung berapi.
Akan tetapi yang
menjadi pertannya, benarkah kejadian luar biasa ini hanya ada di Indonesia? Bagaimana keberadaan gunung
tersebut, kemungkinan apa yang akan terjadi dengan keberadaannya atau seberapa
bahakah gunung-gunung tersebut, tapi yang jelas ini
menandakan bahwa memang ada kekuatan besar di sekitar kehidupan manusia, dan
manusia harus percaya itu. Jika Anda berpikir ini terjadi karena kebetulan,
silahkan buktikan sendiri alasan yang rasionalnya.
Bahagian I
Fakta-fakta Sejarah
Fakta, Legenda dan Cerita Rakyat
Sebahagian dari
kita mungkin pernah mendengar tentang sebuh kota yang bernama Thira. Kota Thira
merupakan ibukota kerajaan Minoa yang diperkirakan tenggelam hampir 3500 tahun
silam. Berdasarkan bukti-bukti sejarah yang ada penyelamanpun dilakukan di laut
Aegia antara Yunani dan Turki. Dari penyelaman tersebut ditemukanlah kembali
kota bersejarah itu.
Letaknya di
dasar laut, dalam laguna pulau Santorin yang dulu merupakan gunung api setinggi
1500 meter di atas muka laut. Sekitar tahun 1480 Sebelum Masehi, gunung
Santorin purba itu meletus. Seperti juga letusan Krakatau Purba, gunungnya
sendiri amblas membentuk semacam kaldera di dasar laut. Amblasnya gunung purba
itu mendepak 62 milyar meter kubik air laut yang menghambur
bergelombang-gelombang setinggi ratusan meter.
Peristiwa Tsunami
tersebut terus bergerak ke luar Laut Aegia ke segenap penjuru Laut Tengah
dengan kecepatan 500 km/jam. Bencana alam inilah yang diduga merupakan bahan
mentah kisah filsuf Yunani Plato tentang "benua Atlantis yang
hilang". Setelah penyelaman dan penggalian ahli-ahli arkeologi Universitas
Athena menemukan kota Thira yang masih utuh di dasar laut, meskipun ada yang
berangapan bahwa itulah benua Atlantis yang hilang.
Seorang peneliti
George Pararas Carayannis yang merupakan seorang direktur Pusat Informasi
Tsunami Internasional di Honolulu, menceritakan mengenai penyelaman tersebut,
bahwa kebudayaan kerajaan yang lenyap ditelan bah itu memang sudah lumayan
tingginya. Gedung-gedungnya, ada yang bertingkat satu, dua dan tiga. Di
dalamnya ditemukan banyak artifak Minoa dan alat-alat rumah tangga. Tapi
kerangka manusia, tak satu pun yang ditemukan di situ.
Peristiwa atau
keadaan tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang ada di negeri kita tercinta
ini. Banyak sekali fenomena alam yang sudah terjadi dan fenomena alam yang
diramalkan akan terjadi. Tidak itu saja baru-baru ini ditemukannya gunung api
bawah laut yang sangat mengemparkan masyarakat Benkulu. Masyarakat sudah sangat
trauma dengan kejadian-kejadian alam khususnya tsunami yang melanda Aceh
(Indonesia) beberapa tahun silam.
Kekahawatiran
masyarakat ini sangat wajar, meengingat besarnya gunung laut yang ditemukan
oleh tim peneliti, susah untuk menggambarkan betapa besarnya kalau gunung itu
lebih besar dari gunung Kerinci yang ada di Jambi bahkan lebih besar dari
gunung Jaya Wijawa yang ada di Irian Jaya.
Lain di Kota
Thira, lain di Bengkulu lain juga dengan cerita tentang
sejarah Sangihe-Talaude. Menurut cerita rakyat, bumi Tampunganglawo yang kini disebut
pulau Sangihe Besar, ratusan abad yang lalu, merupakan daratan yang bersambung
dengan pulau-pulau kecil mulai dari pulau
Lipaeng, pulau Kawaluso, pulau Matutuang, pulau Memanu, pulau Komboleng, pulau
Kawio, pulau Marore, pulau Marulung (pulau Balut) dan ujung paling
Utara Barat Laut, pulau Sahenganeng (pulau
Saranggani).
Perkampungan dari suku Bantik
yang dulu bernama Kaluwulang
berada di bumi Tampunganglawo,
yaitu diantara napong Ehise (beting-putih) dengan pulau Marulung. Tapi karena
daratan Tampunganglawo bagian Utara Barat Laut tenggelam, maka Suku Bantik
mengungsi ke daratan Talaud, lalu berpindah tempat dan mendiami pesisir Barat
sepanjang pantai Sulawesi Utara, lainnya ke Mindanao Selatan.
Kisah ataupun cerita rakyat
ini tidak jauh berbedan dengan analisa seorang ahli gunung api Ir. Hadikoesoemo,
dia pernah memastikan pada tahun 1949 dengan memeriksa keadaan gunung Awu
Tahuna-Kolongan. Dia menaiki gunung, lalu menunjuk ke arah Utara dan berkata,
bahwa pulau-pulau yang berjejer kebawah itu (maksudnya pulau Lipaeng dan seterusnya) zaman dulu kala adalah
puncak-puncak gunung tinggi, yang daratannya bersambungan dengan pulau Sangir
Besar ini. Dan bagian yang terbesar dari daratan, sudah tenggelam ke dasar
laut, akibat dari letusan gunung api dahsyat yang terjadi beberapa kali.
Setelah daratan
Tampunganglawo bagian Utara Barat Laut tenggelam, di bagian sebelah Timur dari
daratan yang tenggelam itu, dari dalam lautan muncul sebuah daratan baru yang
disebut Porodisa. Secara ilmiah, proses ini dapat dibenarkan menurut
teori seorang Ahli Tubuh Bumi, Bpk. Wisaksono Wirjodihardjo, di dalam bukunya
yang berjudul Tubuh Bumi Indonesia, dia mengumpamakan bahwa bumi ini merupakan
tanah gambut dan bila diinjak di tengah-tengahnya, maka bagian yang kena kaki,
permukaan tanah itu akan turun, sedang tanah di bagian luar dari kaki itupun
meninggi, namun volume tanah tidak akan berkurang. Jadi, jika menurut teori
ini, maka besarnya daratan Tampunganglawo yang tenggelam itu, sama besarnya
atau luasnya dengan daratan Porodisa atau pulau Karakelang Talaud.
Banyak kisah dan cerita yang dapat
kita ikuti dalam mengiringi perjalan sejarah kota-kota besar yang menjadi sirna
dan hilang akibat amukan dari gunung-gunung penyangga lagit. Mungkin kita masih
ingat cerita kelam Pompeii. Sebuah kota yang diterjang letusan sebuah gunung
yang bernama Gunung
Vesuvius
Gunung Vesuvius merupakan lambang
negeri Italia, khususnya kota Naples. Gunung berapi ini juga dikenal sebagai
“Gunung Kemalangan”. Dinamakan demikian karena sebuah kota yang berada di
lerengnya pernah bernasib serupa dengan kota Sodom dan
kota
yang bernama Pompeii ini dihancurkan karena pembangkangannya kepada Allah dan
perilaku menyimpang penduduknya.
Dalam sejarahnya di masa lalu
Pompeii adalah kota tujuan wisata bagi masyarakat kelas atas Kekaisaran Romawi
dan menjadi lambang kemakmuran megeri ini. Dengan
peradaban kala itu gaya arsitektur rumah-rumahnya sangat
memukau.
Penduduk Pompeii sangatlah makmur. Sayangya, bukannya bersyukur kepada Allah
atas kemakmuran itu, mereka malah menjadi bangsa berperilaku menyimpang yang
berkubang dalam kemaksiatan.
Kota indah ini sangat tersohor
karena dua hal. Pertama, kota ini memiliki arena pertarungan gladiator kedua
terbesar setelah coloseum yang ada di kota Roma. Pertarungan hingga mati ini
mereka adakan hanya untuk menghibur kaum kaya. Di tahun-tahun awal sejarah
agama Nasrani, oleh kaisar Romawi yang beragama politeisme, arena itu menjadi
tempat mengadu sesama orang Nasrani hingga mati.
Kedua, di kota besar ini berlaku sistem perbudakan yang paling tidak manusiawi. Kaum
bangsawan Pompeii kerap memaksa budak mereka untuk menjadi pelacur. Para budak
kerap dijadikan obyek perilaku homoseksual mereka.
Pada suatu ketika tiba-tiba
Gunung Vesuvius meletus, lalu dalam sekejap laharnya menenggelamkan kota
Pompeii beserta isinya. Begitu cepatnya bencana itu terjadi, sehingga seluruh
penduduk Pompeii tidak ada yang dapat melarikan diri. Bahkan, mereka yang
sedang duduk tidak sempat untuk sekedar berdiri.
Peristiwa yang maha dasyat itu baru bisa
diketahui 2000 tahun setelah peristiwa itu terjadi. Kejadian itu mulai terkuak
ketika seperempat pertama abad ke-20, para arkeolog mulai menggali sisa
reruntuhannya dari bawah berton-ton batuan vulkanis. Penemuan
mutahir tersebut berupa sejarah berusia 2000 tahun yang benar-benar terawetkan.
Bencana ini menimpa Pompeii sangat tiba-tiba hingga semuanya tetap dalam
keadaan yang sama seperti 2000 tahun yang lalu, seolah perjalanan waktu telah
terhenti.
Kita terlalu sulit untuk
membayangkan akibat letusan Vesuvius ini, bahkan tak seorang pun
sempat melarikan diri, hal ini ditandai dengan temuan bahwa
mereka
membatu di tempat mereka berada. Muka, bahkan gigi dari sejumlah tubuh ini
masih utuh sama sekali. Hampir semua wajah mereka menampakkan mimik
keterkejutan dan ketakutan. Sebuah keluarga yang sedang makan bersama membatu
seketika itu juga. Bahkan makanan di atas meja ikut terawetkan.
Kalau diurai lagi sejarah gunung tersebut diperkirakan meletus Sekitar 2000 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 24 Agustus tahun 79, konon
letusan itu adalah yang pertama setelah gunung api tersebut tertidur lelap
selama berabad-abad.
Gunung Vesuvius
yang menurut legenda berarti “Putra Ves atau Zeus” alias
Hercules, terletak di kawasan Campagnia dekat Teluk Napoli, tak jauh dari kota
industri dan perdagangan Pompeii yang ketika itu berpenduduk lebih dari 20 ribu
jiwa. Tak jauh dari sana juga terdapat kota peristirahatan musim panas,
Herculaneum, yang dipenuhi villa, pemandian ala Romawi, dan tak lupa perjudian.
Di sekitarnya dapat dijumpai perkebunan anggur yang luas, juga beberapa kota
kecil seperti Stabiae.
Bencana pada tahun 79 ini diawali oleh sebuah
gempa besar pada tahun 62. Tetapi bangsa Romawi pada masa itu tidak
menghubungkan gempa dengan aktivitas gunung berapi. Diperkirakan karena
mereka, terutama di Campagnia, sudah terbiasa dengan banyaknya getaran dan
goncangan bumi, kecil dan besar.
Letusan tersebut terjadi tengah hari tanggal 24
Agustus, Vesuvius meledak, menghamburkan gumpalan abu tebal yang bisa digambarkan
menyerupai jamur atau pohon cemara. Seperti digambarkan Pliny The Younger,
filsuf yang sedang berada di Teluk Napoli pada saat letusan terjadi, dalam
suratnya kepada Tacitus, abu terlempar jauh tinggi ke atas seperti batang, lalu
melebar dan akhirnya berhamburan ke bumi. Tinggi semburan ini diduga mencapai
30 kilometer, dan selama hampir 12 jam kemudian, Pompeii seperti dilapisi abu
dan kerikil vulkanis
yang sangat.
Pompeii dan
Herculaneum ternyata tak pernah dibangun kembali oleh para bekas penduduknya yang selamat, hingga secara
kebetulan ditemukan kembali pada abad ke-18. Tetapi Vesuvius kini masih berdiri
tegak. Ia masih sempat meletus puluhan kali hingga terakhir kalinya pada tahun
1944. Walaupun tinggi puncaknya saat ini hanya 1281 meter dari permukaan laut,
satu-satunya gunung berapi benua Eropa yang masih aktif ini akan selalu
mengingatkan akan ganasnya alam yang dapat memusnahkan sebuah kota.
Kita kembali melihat kedepan, bahwa kita,
penduduk Indonesia, sewajarnya juga mengingat bahwa gunung-gunung berapi di
sekitar kita harus selalu diwaspadai aktivitasnya. Banyak sekali gunung berapi yang silih berganti
melakukan aktivitas vulkanik dan belum lagi gunung berapai yang terdapat
dibawah laut Indonesia yang begitu banyak. Kita harus ingat bahwa Indonesia masih memegang rekor jumlah korban tewas terbanyak akibat
letusan gunung berapi, yaitu letusan Gunung Tambora Sumbawa pada April
1815 yang mengambil 92 ribu jiwa.
Dari pengamatan para ahli gunung api, di bumi yang kita huni ini
terdapat beberapa gunung yang memiliko kekuatan besar yang jika meletus akan
mengakibatkan peristiwa yang maha dasyat, istilah tersebut dinamai gunung super
vulkano. Diantaranya ada Gunung
Yellowstone Caldera, Amerika Serikat.
Kita bisa
membayangkan bahwa Yellowstone Caldera adalah kaldera vulkanik di Taman
Nasional Yellowstone di Amerika Serikat. Kaldera ini terletak di sudut barat
laut Wyoming, di mana sebagian besar terdapat taman. Puluhan kilometer di bawah
permukaan bumi taman ini terdapat cadangan magma yang luar biasa banyaknya. Kaldera
yellowstone berukuran sekitar 55 kilometer kali 72 kilometer. Dan jika Gunung
Supervolcano Yellowstone meletus, diperkirakan akan membentuk Sebuah lubang
berukuran 30 X 30 kilometer akan muncul di permukaan bumi. Sebagian besar isi
gunung akan terpental hingga lapisan stratosfer. Ini berarti banyak serpihan
akan tersebar tinggi di atmosfer dan mengurangi intensitas cahaya matahari.
Suhu bumi dapat berkurang hingga beberapa derajat Celcius. Lahan di sekitar
lubang tersebut juga dapat menyebabkan gempa bumi hebat. Begitu dahsyat, hingga
dapat menghancurkan seluruh benua Amerika.
Selain itu
ada gunung Popocatepetl. Gunung ini merupakan gunung berapi aktif yang terletak
pada ketinggian 5.426 meter dari permukaan laut. tercatat sudah ada 20 letusan
sejak 1519. Letusan gunung ini sangat dahsyat, karena bisa mengeluarkan abu
vulkanik dalam radius yang cukup jauh. Bahkan sejak Desember 1994 terjadi
aktivitas membahayakan pada gunung ini secara terus-menerus, hingga akhirnya
sebuah letusan hebat terjadi pada tahun 2000 yang merupakan letusan terbesar
sepanjang sejarah gunung Popocatepetl yang pernah diabadikan.
Ada gunung
di negeri sakura Jepang yaitu gunung Sakurajima. Saat gunung ini meletus pada
tanggal 12 Januari 1914 mengeluarkan
lava dalam jumlah besar. Lava yang ditumpahkan sekitar 1,5 km³ dan daerah yang
tertutup lava mencapai sekitar 9,2 km². Lava mengalir hingga ke laut di bagian
barat dan bagian tenggara Sakurajima. Sebagai akibatnya, luas Pulau Sakurajima
bertambah setelah menelan beberapa pulau-pulau kecil di sekelilingnya, dan
akhirnya terhubung dengan daratan di tanah genting yang sempit. Beberapa bagian
dari Teluk Kagoshima menjadi lebih dangkal.
Di
kolombia ada gunung yang bernama gunung Galeras. Galeras telah menjadi gunung
berapi aktif selama setidaknya satu juta tahun. Letusan gunung ini bisa
menyebabkan turunya lava panas hingga 3,5 km ke arah lereng gunung Galeras.
Letusan terakhir terkadi pada tanggal 3 Januari 2010, dan memaksa pemerintah
untuk mengevakuasi 8.000 orang.
Kemudian
yang kita harus waspadai adalah gunung di negeri kita tercinta Gunung Merapi.
Gunung ini terletak di kota Magelang. Gunung Merapi adalah gunung berapi yang berbentuk
kerucut yang terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Yogyakarta, dan
gunung ini adalah gunung berapi yang paling aktif di Indonesia dan telah
meletus secara berkala sejak 1548. Gunung ini telah aktif sejak 10.000 tahun
yang lalu. Sebagian besar letusan Merapi melibatkan runtuhnya kubah lava yang
terus mengalir ka bawah. Dan kadang sering disertai dengan turunya asap panas yang
dikenal dengan istilah (wedhus Gembel) yang kecepatanya bisa mencapai 120 km
per jam
Jauh di
negeri kongo, ada gunung yang bernama Nyiragongo, letusan utama gunung ini
dimulai pada 17 Januari 2002, yang menyebabkan 500.000 orang kehilangan tempat
tinggal dan aliran lavanya bahkan sampai di kota Goma, yang terletak 20 km
jauhnya, dari letusan gunung ini, juga membentuk kawah yang sangat spektakuler
yaitu kawah yang berkedalaman 250 m dan lebar 2 km.
Semua
gunung yang telah disebutkan di atas adalah gunung-gunung yang memiliki letusan
yang super besar, tapi pernahkah anda mendengar letusan yang maha dasyat yang
berpuluh-puluh kali kekuatannya dari gunung-gunung tersebut? Di Indonesia
tepatnya di pulau Sumatra terdapat sebuah danau yang sangat besar yang terkenal
dengan danau Toba.
Danau ini
terbentuk akibat letusan yang sangat hebat dengan letusan
vulkanik lebih besar dari 1.000 kilometer kubik, yang lebih besar dari
peristiwa vulkanik manapun dalam sejarah. Supervolcano dapat
terjadi ketika magma
di Bumi naik ke
kerak tetapi tidak mampu melewati kerak. Meningkatnya tekanan membuat kerak
tidak dapat menahan tekanan. Supervolcano juga dapat membentuk batas lempeng
konvergen (contohnya Toba). Istilah supervolcano relatif baru bagi ilmu
pengetahuan.
Oleh para ahli vulkanologi, diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar
73.000-75.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi
super) yang paling baru. Bill Rose dan Craig Chesner
dari Michigan Technological University memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik
yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2.800 km³, dengan 800 km³ batuan ignimbrit
dan 2.000 km³ abu vulkanik yang diperkirakan
tertiup angin ke barat selama 2 minggu. Debu vulkanik yang ditiup angin telah
menyebar ke separuh bumi, dari Cina sampai ke Afrika Selatan. Letusannya
terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai 10 km di atas permukaan
laut.
Peristiwa ini ini menyebabkan kematian massal
dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga
menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar 60% dari jumlah populasi manusia bumi
saat itu, yaitu sekitar 60 juta manusia. Letusan itu juga ikut
menyebabkan terjadinya zaman es, walaupun para ahli masih memperdebatkannya, dan setelah
letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan yang
sekarang dikenal sebagai Danau
Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau
Samosir.
Saat ini
banyak orang di Indonesia bahkan dunia Internasional lebih mengetahui
Toba sebagai suatu danau yang
indah dan di tengahnya ada subuah pulau yang bernama Samosir.
Namun pada mulanya, Toba adalah sebuah gunung api besar. Kenyataan ini
dikuatkan oleh para ilmuan, dan diangkat sejarahnya salah satu terdapat dalam buku nonfiksi Magic Tree House Research Guides: Tsunamis and
Other Natural Disasters, New York, oleh Mary P. Osborne & Natalie P.
Boyce terbitan tahun 2008.
Untuk zaman modern sekarang para
ilmuan sudah dengan sangat mudah untuk mengetahui kondisi gunung berapi dan
dapat membaca tanda-tanda dan kondisi gunung meskipun belum ada alat atau
teknologi yang mampu memperkirakan atau memprediksi kapan sebuah gunung
meletus. Kemampuan teknologi ini tidak hanya mampu mempelajari kondisi gunung
yang ada di darat bahkan mampu mempelajari kondisi gunung yang ada di dalaum
lautan luas. Sebut saja gunung berapi terbesar yang ada untuk saat ini yang
terdapat di kepulauan Hawaii.
Ada pendapat
yang mengatakan bahwa rangkaian pulau-pulau yang ada di keepulauan Hawaii itu
terjadi akibat adanya hot spot di bawah lempeng samudra, hot spot tersebut
memiliki posisi tetap, sedangkan lempeng diatasnya terus menerus bergerak
dengan kecepatan relatif pertahunnya dan saat hot spot aktif, lempeng di
atasnya mengalami peristiwa pembentukan gunung api (volkanisme) di bawah laut.
Gunung api tersebut ada yang tingginya mencapai batas permukaan laut ada juga
yang tidak, semua bergantung pada kekuatan aktivitas magma penyebab volkanisme
ketika hot spot aktif.
Gunung api yang
muncul ke permukaan laut tersebut akan mati ketika lempeng tempatnya terbentuk
bergeser dari zona hot spot. Ketidakadaannya magma yang menyokong gunung api
menyebabkan gunung api itu tidak aktif lagi dan kemudia berubah menjadi pulau.
Kepulauan Hawai memiliki delapan pulau utama di
Pulau Hawai, yaitu Hawai’i, Maui, O’ahu, Kaho’olawe, Lana’i, Moloka’i,
Kaua’i, dan Ni’ihau, dan tentunya, masih banyak lagi pulau-pulau lainnya dengan
ukuran lebih kecil dari delapan pulau tersebut.
Orang-orang Jepang
merupakan orang dan bangsa pertama yang mendiami Pulau Hawai, yaitu sekitar
1896. Mereka berimigrasi ke Pulau Hawai sebagai buruh kontrak di perkebunan
tebu dan perkebunan nanas, kemudian disusul oleh imigrasi buruh dari Puerto
Rico, dimulai ketika industri pengolahan gula tebu di sana mengalami kehancuran
pada 1899, akibat adanya badai topan. Bencana tersebut membuat Pulau Hawai
sebagai satu-satunya penghasil gula tebu di dunia saat itu. Selanjutnya,
berdatangan pula gelombang imigrasi dari Korea dalam rentang waktu 1903-1924,
disusul pada 1965.
Pulau Hawai resmi menjadi salah satu negara bagian Amerika Serikat pada 21
Agustus 1959 dan menjadi negara bagian termuda, yaitu ke-50. Hawai yang
merupakan negara kepulauan, menjadikannya sebagai karakteristik khusus dari
negara bagian termuda Amerika Serikat ini.
Sebuah gunung besar yang bernama Mauna Kea terdapat
di Pulau ini, gunung ini memiliki ketinggian 4.205 meter dari atas permukaan laut.
Kita bisa bayangkan betapa besarnya gunung tersebut. Pada kenyataannya, dasar
gunung tersebut berada di dasar Laut Pasifik yang memiliki kedalaman sekitar
10.200 meter. Banyak yang mengatakan bahwa gunung tersebut lebih tinggi dari Gunung
Everest, jika tingginya dihitung dari dasar yang berada di kedalaman Laut
Pasifik. Keindahan panorama alam Pulau Hawai dikelilingi oleh lautan.
Hawaii's Mauna
Kea atau Gunung Puncak Putih ini, berukuran
16.400 m (47.000 kaki) dari dasar ke puncak,itu gunung berapi bawah laut dengan
kapasitas ke luarnya magma mencapai 75%/tahunnya.
Sebenarnya tanpa kita sadari letusan gunung berapi
bawah laut sering terjadi tanpa disadari. Karena tanda-tanda biasa seperti
gemuruh dan asap lebih sulit untuk mendeteksi, semua lebih spektakuler ketika
sebuah gunung berapi bawah laut terlihat meletus.
Diperkirakan bahwa saat ini ada 5.000 gunung berapi
aktif di bawah air di seluruh dunia, dari berbagai ukuran, berdiri sendiri atau
membentuk pegunungan dengan gunung berapi lainnya, di mana yang tertinggi akan
naik di atas permukaan sebagai pulau.
Bagian terendam dari Kepulauan Hawaii, misalnya,
adalah salah satu pegunungan vulkanik terbesar dan terpanjang dengan panjangnya
lebih dari 2.400 km (1.500 mil), celah bawah air di permukaan bumi, gunung
berapi yang paling bawah pada dasar laut terletak dekat bidang pergerakan lempeng
tektonik, seperti halnya gunung berapi Clusters darat sehingga lahan subur
menunjukkan aktivitas gunung berapi bawah laut juga, seperti tempat-tempat yang
digambarkan di sekitar Hawaii, California, Islandia, Jepang, Selandia Baru,
Karibia dan Antartika.
Molokini Kawah (di atas) di Maui County, Hawaii
adalah berbentuk bulan sabit "pulau" populer dengan penyelam scuba,
perenang snorkel dan burung laut sama, tetapi digunakan untuk menjadi kawah,
sepenuhnya bulat vulkanik.
Selain di kepulauan Hawaii, gunung berapi bawah laut
juga terdapat di Negara kita tercinta ini, dan gunung itu tidak hanya satu
bahkan baru-baru ini para peneliti juga menemukan gunung berpai bawah laut di
perairan Bengkulu, dan yang sangat mengejutkan bahwa diperkirakan gunung tersebut
akan menjadi gunung paling tinggi dan paling besar di Indonesia. Dan kita akan
membahasnya lebih jauh pada bab-bab berikut dalam buku yang and abaca ini.
Bahagian II
Berbagai Macam Tipe
Letusan Gunung
Dan Peristiwa Yang
Mengiringinya
Masing-masing gunung api yang ada di dunia ini,
memiliki keunikan dan kekhasan sendiri-sendiri, bahkan masing-masing gunung
tersebut berbeda juga tipikal letusannya. Berdasarkan teori yang ada gunung
berapi memiliki tipe letusan berdasarkan hal-hal berikut ini:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar