Selasa, 03 Februari 2015

Misteri gunung bawah laut di Indonesiia. (Buku Populer)



PENDAHULUAN
BAB I: Gambaran Umum
  • Letak Geografis Indonesia
  • Sejarah Gunung-gunung Di Indonesia
  • Keadaan Gunung Di Indonesia Terkini
  • Keadaan Gunung Bawah  Laut Indonesia

BAB I: Teori Pembentukan Gunung Api Bawah Laut

BAB II: Fenomena Gunung Berapi Di Bawah Laut
·         Jenis Gunung Laut
·         Pembentukan Seamount

BAB III: Menguak Potensi Dasar Laut Indonesia
·         Ekspedisi Dasar Laut
·         Ekspedisi IASSHA
·         Ekspedisi lanjutan

BAB IV: Gunung Berapi Bawah Laut Di Indonesia
1.        Perairan Sangihe Talaud
·         Penelitian
·         Biota Berwarna Mencolok
·         600 spesies
·         Robot Bawah Laut Berkamera
2.        Gunung Api Raksasa Bawah Laut Sumatera
·         Gunung Raksasa di Bawah Laut Sumatera Ada Dua
·         Kepentingan Para Ahli
·         Penelitian Para Ahli
3.        Banua Wuhu

PENUTUP
A. Kesimpulan




PENDAHULUAN

Penemuan gunung berapi di bawah laut, yang akhir-akhir ini banyak diberitakan, di bawah perairan Indonesia seperti mengungkap atau menguak misteri yang selama ini masyarakat Indonesia dan dunia tidak tahu sama sekali tentang keberadaan gunung tersebut. Di mana dengan teknologi yang digunakan oleh para peneliti merupakan teknologi yang sangat canggih. Penelitian tersebut dilakukan oleh ekspedisi yang dilakukan ilmuan Indonesia bersama ilmuan Amerika Serikat, penelitian tersebut dilakukan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) yang berada di bawah naungan Departemen Perdagangan AS. Sehingga dengan ditemukannya gunung berapi tersebut, dapat menggegerkan masyarakat bukan hanya di Indonesia saja tetapi juga di dunia.
Seperti kita ketahui, memang terdapat gunung di bawah laut. Dan itu dikenal dengan sebutan Gunung Laut. Pemberitaan mengenai ditemukannya gunung berapi bawah laut tersebut, banyak menarik perhatian masyarakat yang merasa takjub sekaligus cemas mewarnai masyarakat yang berada lebih dekat dengan lokasi gunung berapi tersebut.
Penjelasan ahli, bahwa gunung berapi adalah bukaan, atau rekahan, pada permukaan bumi yang mengeluarkan gas, abu, dan batu cair yang panas (magma) yang bebas bergerak jauh di bawah permukaan bumi. Dengan adanya aktivitas magma tersebut maka lambat-laun dalam waktu yang sangat lama maka terbentuklah sebuah gunung berapi.
Akan tetapi yang menjadi pertannya, benarkah kejadian luar biasa ini hanya ada di Indonesia? Bagaimana keberadaan gunung tersebut, kemungkinan apa yang akan terjadi dengan keberadaannya atau seberapa bahakah gunung-gunung tersebut, tapi yang jelas ini menandakan bahwa memang ada kekuatan besar di sekitar kehidupan manusia, dan manusia harus percaya itu. Jika Anda berpikir ini terjadi karena kebetulan, silahkan buktikan sendiri alasan yang rasionalnya.

Bahagian I
Fakta-fakta Sejarah

Fakta, Legenda dan Cerita Rakyat
Sebahagian dari kita mungkin pernah mendengar tentang sebuh kota yang bernama Thira. Kota Thira merupakan ibukota kerajaan Minoa yang diperkirakan tenggelam hampir 3500 tahun silam. Berdasarkan bukti-bukti sejarah yang ada penyelamanpun dilakukan di laut Aegia antara Yunani dan Turki. Dari penyelaman tersebut ditemukanlah kembali kota bersejarah itu.
Letaknya di dasar laut, dalam laguna pulau Santorin yang dulu merupakan gunung api setinggi 1500 meter di atas muka laut. Sekitar tahun 1480 Sebelum Masehi, gunung Santorin purba itu meletus. Seperti juga letusan Krakatau Purba, gunungnya sendiri amblas membentuk semacam kaldera di dasar laut. Amblasnya gunung purba itu mendepak 62 milyar meter kubik air laut yang menghambur bergelombang-gelombang setinggi ratusan meter. 
Peristiwa Tsunami tersebut terus bergerak ke luar Laut Aegia ke segenap penjuru Laut Tengah dengan kecepatan 500 km/jam. Bencana alam inilah yang diduga merupakan bahan mentah kisah filsuf Yunani Plato tentang "benua Atlantis yang hilang". Setelah penyelaman dan penggalian ahli-ahli arkeologi Universitas Athena menemukan kota Thira yang masih utuh di dasar laut, meskipun ada yang berangapan bahwa itulah benua Atlantis yang hilang. 
Seorang peneliti George Pararas Carayannis yang merupakan seorang direktur Pusat Informasi Tsunami Internasional di Honolulu, menceritakan mengenai penyelaman tersebut, bahwa kebudayaan kerajaan yang lenyap ditelan bah itu memang sudah lumayan tingginya. Gedung-gedungnya, ada yang bertingkat satu, dua dan tiga. Di dalamnya ditemukan banyak artifak Minoa dan alat-alat rumah tangga. Tapi kerangka manusia, tak satu pun yang ditemukan di situ.
Peristiwa atau keadaan tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang ada di negeri kita tercinta ini. Banyak sekali fenomena alam yang sudah terjadi dan fenomena alam yang diramalkan akan terjadi. Tidak itu saja baru-baru ini ditemukannya gunung api bawah laut yang sangat mengemparkan masyarakat Benkulu. Masyarakat sudah sangat trauma dengan kejadian-kejadian alam khususnya tsunami yang melanda Aceh (Indonesia) beberapa tahun silam.
Kekahawatiran masyarakat ini sangat wajar, meengingat besarnya gunung laut yang ditemukan oleh tim peneliti, susah untuk menggambarkan betapa besarnya kalau gunung itu lebih besar dari gunung Kerinci yang ada di Jambi bahkan lebih besar dari gunung Jaya Wijawa yang ada di Irian Jaya.
Lain di Kota Thira, lain di Bengkulu lain juga dengan cerita tentang sejarah Sangihe-Talaude. Menurut cerita rakyat, bumi Tampunganglawo yang kini disebut pulau Sangihe Besar, ratusan abad yang lalu, merupakan daratan yang bersambung dengan pulau-pulau kecil mulai dari pulau Lipaeng, pulau Kawaluso, pulau Matutuang, pulau Memanu, pulau Komboleng, pulau Kawio, pulau Marore, pulau Marulung (pulau Balut)  dan ujung paling Utara Barat Laut, pulau Sahenganeng (pulau Saranggani).
Perkampungan dari suku Bantik yang dulu bernama Kaluwulang berada di bumi Tampunganglawo, yaitu diantara napong Ehise (beting-putih) dengan pulau Marulung. Tapi karena daratan Tampunganglawo bagian Utara Barat Laut tenggelam, maka Suku Bantik mengungsi ke daratan Talaud, lalu berpindah tempat dan mendiami pesisir Barat sepanjang pantai Sulawesi Utara, lainnya ke Mindanao Selatan.
Kisah ataupun cerita rakyat ini tidak jauh berbedan dengan analisa seorang ahli gunung api Ir. Hadikoesoemo, dia pernah memastikan pada tahun 1949 dengan memeriksa keadaan gunung Awu Tahuna-Kolongan. Dia menaiki gunung, lalu menunjuk ke arah Utara dan berkata, bahwa pulau-pulau yang berjejer kebawah itu (maksudnya pulau Lipaeng dan seterusnya) zaman dulu kala adalah puncak-puncak gunung tinggi, yang daratannya bersambungan dengan pulau Sangir Besar ini. Dan bagian yang terbesar dari daratan, sudah tenggelam ke dasar laut, akibat dari letusan gunung api dahsyat yang terjadi beberapa kali.
Setelah daratan Tampunganglawo bagian Utara Barat Laut tenggelam, di bagian sebelah Timur dari daratan yang tenggelam itu, dari dalam lautan muncul sebuah daratan baru yang disebut Porodisa. Secara ilmiah, proses ini dapat dibenarkan menurut teori seorang Ahli Tubuh Bumi, Bpk. Wisaksono Wirjodihardjo, di dalam bukunya yang berjudul Tubuh Bumi Indonesia, dia mengumpamakan bahwa bumi ini merupakan tanah gambut dan bila diinjak di tengah-tengahnya, maka bagian yang kena kaki, permukaan tanah itu akan turun, sedang tanah di bagian luar dari kaki itupun meninggi, namun volume tanah tidak akan berkurang. Jadi, jika menurut teori ini, maka besarnya daratan Tampunganglawo yang tenggelam itu, sama besarnya atau luasnya dengan daratan Porodisa atau pulau Karakelang Talaud.
Banyak kisah dan cerita yang dapat kita ikuti dalam mengiringi perjalan sejarah kota-kota besar yang menjadi sirna dan hilang akibat amukan dari gunung-gunung penyangga lagit. Mungkin kita masih ingat cerita kelam Pompeii. Sebuah kota yang diterjang letusan sebuah gunung yang bernama Gunung Vesuvius
Gunung Vesuvius merupakan lambang negeri Italia, khususnya kota Naples. Gunung berapi ini juga dikenal sebagai “Gunung Kemalangan”. Dinamakan demikian karena sebuah kota yang berada di lerengnya pernah bernasib serupa dengan kota Sodom dan kota yang bernama Pompeii ini dihancurkan karena pembangkangannya kepada Allah dan perilaku menyimpang penduduknya.
Dalam sejarahnya di masa lalu Pompeii adalah kota tujuan wisata bagi masyarakat kelas atas Kekaisaran Romawi dan menjadi lambang kemakmuran megeri ini. Dengan peradaban kala itu gaya arsitektur rumah-rumahnya sangat memukau. Penduduk Pompeii sangatlah makmur. Sayangya, bukannya bersyukur kepada Allah atas kemakmuran itu, mereka malah menjadi bangsa berperilaku menyimpang yang berkubang dalam kemaksiatan.
Kota indah ini sangat tersohor karena dua hal. Pertama, kota ini memiliki arena pertarungan gladiator kedua terbesar setelah coloseum yang ada di kota Roma. Pertarungan hingga mati ini mereka adakan hanya untuk menghibur kaum kaya. Di tahun-tahun awal sejarah agama Nasrani, oleh kaisar Romawi yang beragama politeisme, arena itu menjadi tempat mengadu sesama orang Nasrani hingga mati.
Kedua, di kota besar ini berlaku sistem perbudakan yang paling tidak manusiawi. Kaum bangsawan Pompeii kerap memaksa budak mereka untuk menjadi pelacur. Para budak kerap dijadikan obyek perilaku homoseksual mereka. Pada suatu ketika tiba-tiba Gunung Vesuvius meletus, lalu dalam sekejap laharnya menenggelamkan kota Pompeii beserta isinya. Begitu cepatnya bencana itu terjadi, sehingga seluruh penduduk Pompeii tidak ada yang dapat melarikan diri. Bahkan, mereka yang sedang duduk tidak sempat untuk sekedar berdiri.
Peristiwa yang maha dasyat itu baru bisa diketahui 2000 tahun setelah peristiwa itu terjadi. Kejadian itu mulai terkuak ketika seperempat pertama abad ke-20, para arkeolog mulai menggali sisa reruntuhannya dari bawah berton-ton batuan vulkanis. Penemuan mutahir tersebut berupa sejarah berusia 2000 tahun yang benar-benar terawetkan. Bencana ini menimpa Pompeii sangat tiba-tiba hingga semuanya tetap dalam keadaan yang sama seperti 2000 tahun yang lalu, seolah perjalanan waktu telah terhenti.
Kita terlalu sulit untuk membayangkan akibat letusan Vesuvius ini, bahkan tak seorang pun sempat melarikan diri, hal ini ditandai dengan temuan bahwa mereka membatu di tempat mereka berada. Muka, bahkan gigi dari sejumlah tubuh ini masih utuh sama sekali. Hampir semua wajah mereka menampakkan mimik keterkejutan dan ketakutan. Sebuah keluarga yang sedang makan bersama membatu seketika itu juga. Bahkan makanan di atas meja ikut terawetkan.
Kalau diurai lagi sejarah gunung tersebut diperkirakan meletus Sekitar 2000 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 24 Agustus tahun 79, konon letusan itu adalah yang pertama setelah gunung api tersebut tertidur lelap selama berabad-abad.
Gunung Vesuvius yang menurut legenda berarti “Putra Ves atau Zeus” alias Hercules, terletak di kawasan Campagnia dekat Teluk Napoli, tak jauh dari kota industri dan perdagangan Pompeii yang ketika itu berpenduduk lebih dari 20 ribu jiwa. Tak jauh dari sana juga terdapat kota peristirahatan musim panas, Herculaneum, yang dipenuhi villa, pemandian ala Romawi, dan tak lupa perjudian. Di sekitarnya dapat dijumpai perkebunan anggur yang luas, juga beberapa kota kecil seperti Stabiae.
Bencana pada tahun 79 ini diawali oleh sebuah gempa besar pada tahun 62. Tetapi bangsa Romawi pada masa itu tidak menghubungkan gempa dengan aktivitas gunung berapi. Diperkirakan karena mereka, terutama di Campagnia, sudah terbiasa dengan banyaknya getaran dan goncangan bumi, kecil dan besar.
Letusan tersebut terjadi tengah hari tanggal 24 Agustus, Vesuvius meledak, menghamburkan gumpalan abu tebal yang bisa digambarkan menyerupai jamur atau pohon cemara. Seperti digambarkan Pliny The Younger, filsuf yang sedang berada di Teluk Napoli pada saat letusan terjadi, dalam suratnya kepada Tacitus, abu terlempar jauh tinggi ke atas seperti batang, lalu melebar dan akhirnya berhamburan ke bumi. Tinggi semburan ini diduga mencapai 30 kilometer, dan selama hampir 12 jam kemudian, Pompeii seperti dilapisi abu dan kerikil vulkanis yang sangat.
Pompeii dan Herculaneum ternyata tak pernah dibangun kembali oleh para bekas  penduduknya yang selamat, hingga secara kebetulan ditemukan kembali pada abad ke-18. Tetapi Vesuvius kini masih berdiri tegak. Ia masih sempat meletus puluhan kali hingga terakhir kalinya pada tahun 1944. Walaupun tinggi puncaknya saat ini hanya 1281 meter dari permukaan laut, satu-satunya gunung berapi benua Eropa yang masih aktif ini akan selalu mengingatkan akan ganasnya alam yang dapat memusnahkan sebuah kota.
Kita kembali melihat kedepan, bahwa kita, penduduk Indonesia, sewajarnya juga mengingat bahwa gunung-gunung berapi di sekitar kita harus selalu diwaspadai aktivitasnya. Banyak sekali gunung berapi yang silih berganti melakukan aktivitas vulkanik dan belum lagi gunung berapai yang terdapat dibawah laut Indonesia yang begitu banyak. Kita harus ingat bahwa Indonesia masih memegang rekor jumlah korban tewas terbanyak akibat letusan gunung berapi, yaitu letusan Gunung Tambora Sumbawa pada April 1815 yang mengambil 92 ribu jiwa.
Dari pengamatan para ahli gunung api, di bumi yang kita huni ini terdapat beberapa gunung yang memiliko kekuatan besar yang jika meletus akan mengakibatkan peristiwa yang maha dasyat, istilah tersebut dinamai gunung super vulkano. Diantaranya ada Gunung Yellowstone Caldera, Amerika Serikat.
Kita bisa membayangkan bahwa Yellowstone Caldera adalah kaldera vulkanik di Taman Nasional Yellowstone di Amerika Serikat. Kaldera ini terletak di sudut barat laut Wyoming, di mana sebagian besar terdapat taman. Puluhan kilometer di bawah permukaan bumi taman ini terdapat cadangan magma yang luar biasa banyaknya. Kaldera yellowstone berukuran sekitar 55 kilometer kali 72 kilometer. Dan jika Gunung Supervolcano Yellowstone meletus, diperkirakan akan membentuk Sebuah lubang berukuran 30 X 30 kilometer akan muncul di permukaan bumi. Sebagian besar isi gunung akan terpental hingga lapisan stratosfer. Ini berarti banyak serpihan akan tersebar tinggi di atmosfer dan mengurangi intensitas cahaya matahari. Suhu bumi dapat berkurang hingga beberapa derajat Celcius. Lahan di sekitar lubang tersebut juga dapat menyebabkan gempa bumi hebat. Begitu dahsyat, hingga dapat menghancurkan seluruh benua Amerika.
Selain itu ada gunung Popocatepetl. Gunung ini merupakan gunung berapi aktif yang terletak pada ketinggian 5.426 meter dari permukaan laut. tercatat sudah ada 20 letusan sejak 1519. Letusan gunung ini sangat dahsyat, karena bisa mengeluarkan abu vulkanik dalam radius yang cukup jauh. Bahkan sejak Desember 1994 terjadi aktivitas membahayakan pada gunung ini secara terus-menerus, hingga akhirnya sebuah letusan hebat terjadi pada tahun 2000 yang merupakan letusan terbesar sepanjang sejarah gunung Popocatepetl yang pernah diabadikan.
Ada gunung di negeri sakura Jepang yaitu gunung Sakurajima. Saat gunung ini meletus pada tanggal  12 Januari 1914 mengeluarkan lava dalam jumlah besar. Lava yang ditumpahkan sekitar 1,5 km³ dan daerah yang tertutup lava mencapai sekitar 9,2 km². Lava mengalir hingga ke laut di bagian barat dan bagian tenggara Sakurajima. Sebagai akibatnya, luas Pulau Sakurajima bertambah setelah menelan beberapa pulau-pulau kecil di sekelilingnya, dan akhirnya terhubung dengan daratan di tanah genting yang sempit. Beberapa bagian dari Teluk Kagoshima menjadi lebih dangkal.
Di kolombia ada gunung yang bernama gunung Galeras. Galeras telah menjadi gunung berapi aktif selama setidaknya satu juta tahun. Letusan gunung ini bisa menyebabkan turunya lava panas hingga 3,5 km ke arah lereng gunung Galeras. Letusan terakhir terkadi pada tanggal 3 Januari 2010, dan memaksa pemerintah untuk mengevakuasi 8.000 orang.
Kemudian yang kita harus waspadai adalah gunung di negeri kita tercinta Gunung Merapi. Gunung ini terletak di kota Magelang. Gunung Merapi adalah gunung berapi yang berbentuk kerucut yang terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Yogyakarta, dan gunung ini adalah gunung berapi yang paling aktif di Indonesia dan telah meletus secara berkala sejak 1548. Gunung ini telah aktif sejak 10.000 tahun yang lalu. Sebagian besar letusan Merapi melibatkan runtuhnya kubah lava yang terus mengalir ka bawah. Dan kadang sering disertai dengan turunya asap panas yang dikenal dengan istilah (wedhus Gembel) yang kecepatanya bisa mencapai 120 km per jam
Jauh di negeri kongo, ada gunung yang bernama Nyiragongo, letusan utama gunung ini dimulai pada 17 Januari 2002, yang menyebabkan 500.000 orang kehilangan tempat tinggal dan aliran lavanya bahkan sampai di kota Goma, yang terletak 20 km jauhnya, dari letusan gunung ini, juga membentuk kawah yang sangat spektakuler yaitu kawah yang berkedalaman 250 m dan lebar 2 km.
Semua gunung yang telah disebutkan di atas adalah gunung-gunung yang memiliki letusan yang super besar, tapi pernahkah anda mendengar letusan yang maha dasyat yang berpuluh-puluh kali kekuatannya dari gunung-gunung tersebut? Di Indonesia tepatnya di pulau Sumatra terdapat sebuah danau yang sangat besar yang terkenal dengan danau Toba.
Danau ini terbentuk akibat letusan yang sangat hebat dengan letusan vulkanik lebih besar dari 1.000 kilometer kubik, yang lebih besar dari peristiwa vulkanik manapun dalam sejarah. Supervolcano dapat terjadi ketika magma di Bumi naik ke kerak tetapi tidak mampu melewati kerak. Meningkatnya tekanan membuat kerak tidak dapat menahan tekanan. Supervolcano juga dapat membentuk batas lempeng konvergen (contohnya Toba). Istilah supervolcano relatif baru bagi ilmu pengetahuan.
Oleh para ahli vulkanologi, diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2.800 km³, dengan 800 km³ batuan ignimbrit dan 2.000 km³ abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2 minggu. Debu vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari Cina sampai ke Afrika Selatan. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai 10 km di atas permukaan laut.
Peristiwa ini ini menyebabkan kematian massal dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar 60% dari jumlah populasi manusia bumi saat itu, yaitu sekitar 60 juta manusia. Letusan itu juga ikut menyebabkan terjadinya zaman es, walaupun para ahli masih memperdebatkannya, dan setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.
Saat ini banyak orang di Indonesia bahkan dunia Internasional lebih mengetahui Toba sebagai suatu danau yang indah dan di tengahnya ada subuah pulau yang bernama Samosir. Namun pada mulanya, Toba adalah sebuah gunung api besar. Kenyataan ini dikuatkan oleh para ilmuan, dan diangkat sejarahnya salah satu terdapat dalam buku nonfiksi Magic Tree House Research Guides: Tsunamis and Other Natural Disasters, New York, oleh Mary P. Osborne & Natalie P. Boyce terbitan tahun 2008.
Untuk zaman modern sekarang para ilmuan sudah dengan sangat mudah untuk mengetahui kondisi gunung berapi dan dapat membaca tanda-tanda dan kondisi gunung meskipun belum ada alat atau teknologi yang mampu memperkirakan atau memprediksi kapan sebuah gunung meletus. Kemampuan teknologi ini tidak hanya mampu mempelajari kondisi gunung yang ada di darat bahkan mampu mempelajari kondisi gunung yang ada di dalaum lautan luas. Sebut saja gunung berapi terbesar yang ada untuk saat ini yang terdapat di kepulauan Hawaii.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa rangkaian pulau-pulau yang ada di keepulauan Hawaii itu terjadi akibat adanya hot spot di bawah lempeng samudra, hot spot tersebut memiliki posisi tetap, sedangkan lempeng diatasnya terus menerus bergerak dengan kecepatan relatif pertahunnya dan saat hot spot aktif, lempeng di atasnya mengalami peristiwa pembentukan gunung api (volkanisme) di bawah laut. Gunung api tersebut ada yang tingginya mencapai batas permukaan laut ada juga yang tidak, semua bergantung pada kekuatan aktivitas magma penyebab volkanisme ketika hot spot aktif.
Gunung api yang muncul ke permukaan laut tersebut akan mati ketika lempeng tempatnya terbentuk bergeser dari zona hot spot. Ketidakadaannya magma yang menyokong gunung api menyebabkan gunung api itu tidak aktif lagi dan kemudia berubah menjadi pulau.
Kepulauan Hawai memiliki delapan pulau utama di Pulau Hawai, yaitu Hawai’i, Maui, O’ahu, Kaho’olawe, Lana’i, Moloka’i, Kaua’i, dan Ni’ihau, dan tentunya, masih banyak lagi pulau-pulau lainnya dengan ukuran lebih kecil dari delapan pulau tersebut.
Orang-orang Jepang merupakan orang dan bangsa pertama yang mendiami Pulau Hawai, yaitu sekitar 1896. Mereka berimigrasi ke Pulau Hawai sebagai buruh kontrak di perkebunan tebu dan perkebunan nanas, kemudian disusul oleh imigrasi buruh dari Puerto Rico, dimulai ketika industri pengolahan gula tebu di sana mengalami kehancuran pada 1899, akibat adanya badai topan. Bencana tersebut membuat Pulau Hawai sebagai satu-satunya penghasil gula tebu di dunia saat itu. Selanjutnya, berdatangan pula gelombang imigrasi dari Korea dalam rentang waktu 1903-1924, disusul pada 1965.
Pulau Hawai resmi menjadi salah satu negara bagian Amerika Serikat pada 21 Agustus 1959 dan menjadi negara bagian termuda, yaitu ke-50. Hawai yang merupakan negara kepulauan, menjadikannya sebagai karakteristik khusus dari negara bagian termuda Amerika Serikat ini.
Sebuah gunung besar yang bernama Mauna Kea terdapat di Pulau ini, gunung ini memiliki ketinggian 4.205 meter dari atas permukaan laut. Kita bisa bayangkan betapa besarnya gunung tersebut. Pada kenyataannya, dasar gunung tersebut berada di dasar Laut Pasifik yang memiliki kedalaman sekitar 10.200 meter. Banyak yang mengatakan bahwa gunung tersebut lebih tinggi dari Gunung Everest, jika tingginya dihitung dari dasar yang berada di kedalaman Laut Pasifik. Keindahan panorama alam Pulau Hawai dikelilingi oleh lautan.    
Hawaii's Mauna Kea atau Gunung Puncak Putih ini, berukuran 16.400 m (47.000 kaki) dari dasar ke puncak,itu gunung berapi bawah laut dengan kapasitas ke luarnya magma mencapai 75%/tahunnya.
Sebenarnya tanpa kita sadari letusan gunung berapi bawah laut sering terjadi tanpa disadari. Karena tanda-tanda biasa seperti gemuruh dan asap lebih sulit untuk mendeteksi, semua lebih spektakuler ketika sebuah gunung berapi bawah laut terlihat meletus.
Diperkirakan bahwa saat ini ada 5.000 gunung berapi aktif di bawah air di seluruh dunia, dari berbagai ukuran, berdiri sendiri atau membentuk pegunungan dengan gunung berapi lainnya, di mana yang tertinggi akan naik di atas permukaan sebagai pulau.
Bagian terendam dari Kepulauan Hawaii, misalnya, adalah salah satu pegunungan vulkanik terbesar dan terpanjang dengan panjangnya lebih dari 2.400 km (1.500 mil), celah bawah air di permukaan bumi, gunung berapi yang paling bawah pada dasar laut terletak dekat bidang pergerakan lempeng tektonik, seperti halnya gunung berapi Clusters darat sehingga lahan subur menunjukkan aktivitas gunung berapi bawah laut juga, seperti tempat-tempat yang digambarkan di sekitar Hawaii, California, Islandia, Jepang, Selandia Baru, Karibia dan Antartika.



Molokini Kawah (di atas) di Maui County, Hawaii adalah berbentuk bulan sabit "pulau" populer dengan penyelam scuba, perenang snorkel dan burung laut sama, tetapi digunakan untuk menjadi kawah, sepenuhnya bulat vulkanik.
Selain di kepulauan Hawaii, gunung berapi bawah laut juga terdapat di Negara kita tercinta ini, dan gunung itu tidak hanya satu bahkan baru-baru ini para peneliti juga menemukan gunung berpai bawah laut di perairan Bengkulu, dan yang sangat mengejutkan bahwa diperkirakan gunung tersebut akan menjadi gunung paling tinggi dan paling besar di Indonesia. Dan kita akan membahasnya lebih jauh pada bab-bab berikut dalam buku yang and abaca ini.



Bahagian II

Berbagai Macam Tipe Letusan Gunung
Dan Peristiwa Yang Mengiringinya

Masing-masing gunung api yang ada di dunia ini, memiliki keunikan dan kekhasan sendiri-sendiri, bahkan masing-masing gunung tersebut berbeda juga tipikal letusannya. Berdasarkan teori yang ada gunung berapi memiliki tipe letusan berdasarkan hal-hal berikut ini:
 









Alamat kantor: Komplek Perkantoran Taman Kuliner Blok K 52 Condong Catur Sleman Yogyakarta. Contact  0857-9708-4080 / 0812-2752-6557 / Pin BBm: 7E78B6D5 atau kunjungi Website: lkbi.net / facebook: lkbi Jogja

 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar