TUJUH
CAHAYA YUNANI
Seri Sejarah Filsafat
by TEGUH WANGSA GANDHI HW
DAFTAR ISI
Prelude
BAGIAN I
Hos Philosopheon
Penyair, Sophis dan Filsuf
Mengenal Filsafat
Jalan menuju Filsafat
Muasal Lahirnya Filsafat
Lahirnya Filsafat di Yunani
BAB II
Sejarah Tujuh dari Yunani
Tujuh Sophis dan Apkullu
Tujuh Sophis dan Nimbus
Tujuh Sophis dan Legenda Delphian
Makna Nimbus Tujuh
BAB III
Tujuh Sophis dari Yunani
Thales dari Miletos
Solon dari Athena
Chilon dari Sparta
Pittacus dari Mytilene
Bias dari Priene, Ionia
Cleobulus dari Lindus
Epimendes
ENLUDE
BIBLIOGRAPHY
BIOGRAFI PENULIS
Prelude
***
…serat juga kitab-kitab itu, sesungguhnya, ditulis bukan untuk
menjadi batas. Sebaliknya untuk membuatmu mampu menyibak batas. Karenanya, janganlah
ia membuat pandangmu menjadi mati. Sebab hidup itu sejatinya selalu kenyataan yang
jauh melampaui kitab mana pun yang pernah ditintakan…”
Menulis, pada khususnya menulis semacam buku filsafat, rasanya,
selalu tak berbeda dengan belajar seni menyeduh kopi. Jika terlalu banyak
kopinya, ia akan terasa pahit dan tidak enak. Sebaliknya jika terlalu banyak
gula, citarasa kopi akan pula menjadi hilang. Kita butuh sesuatu yang bernama
ketepatan, terutama saat memadu padankan gula dan kopi. Berapa perbandingan kadarnya,
bagaimana pola aduknya, semua itu harus dipahami dengan baik.
Sebagian kalangan misalnya ada yang memandang
terdapat seni seduh yang maskulin dan ada pula yang feminin. Mereka yang
menyukai cita rasa maskulin, konon harus jauh lebih berani dalam menentukan kadar kopinya. Dengan
begitu, citarasa kopinya akan terasa jauh lebih dekat, dan lebih kuat dalam membalut
manisnya gula. Sedang bagi mereka yang suka cita rasa kopi yang ringan bisa
memperolehnya dengan cara sebaliknya, dimana komposisi gula jauh lebih banyak
ketimbang kopinya.
Dan perlu diingat, tiap cangkir kopi yang
baik dan nikmat, selalu butuh kadar air yang benar-benar panas. Sebab hanya
dalam air yang benar-benar panaslah, gula dan kopi mampu larut, begitu satu,
leleh dalam rasa saling meliputi, antara satu dan lainnya. Disitulah, kita akan
menemukan nikmatnya kopi, dan kopi pun siap untuk dinikmati.
Begitulah kopi. Dan tentu saja, kopi bukan buku,
terlebih buku filsafat. Saya pun harus mengakui, bahwa filsafat juga tidak pernah bisa disimplifikasikan
sebagai kopi. Hanya saja dalam soal “taste” atau citarasa, menulis filsafat rasanya memiliki
hukum tak berbeda dengan menyeduh kopi.[1]
Terdapat penulis yang jauh lebih2 menyukai seni penulisan sejarah dengan pola datar,
linear, dan ada pula yang lebih
memilih narasi dramatik, di mana peristiwa-peristiwa sejarah filsafat terurai tidak secara
linear, akan tetapi sarat dengan emosi.
Hegel misalnya, menurut saya — termasuk jenis
penulis sejarah yang menyukai paparan dramatis dan metaforik ketimbang linear, meski
bersamaan dengan itu ia terlihat ketat, dan konsisten dengan teori filsafat
sejarah yang dibangunnya. Akan berbeda jika kita melihat para penulis sejarah di
Indonesia yang umumnya menulis sejarah, dengan paparan datar dan linear.
Keduanya memang memiliki kelebihan juga kekurangan sendiri-sendiri. Tetapi bagi
saya penulisan sejarah dengan pola linear, jauh lebih berkesan hanya menegaskan
deretan peristiwa-peristiwa yang sudah mati belaka, mekanistik, serta
jauh dari ukuran mampu menyentuh hidup itu sendiri.
Ini misalnya, salah satunya bisa ditamsilkan dalam
penulisan buku-buku sejarah filsafat. Di mana pola-pola yang dipakai cenderung
kaku, sehingga ta berbeda dengan diktat atau resum. Pola ini sepertinya
lebih banyak sisi buruknya ketimbang manfaat yang dibawa. Selain begitu
informatif, ia juga sangat membosankan siapa pun. Dan saya meletakkan hal ini
sebagai salah satu penyebab yang membuat filsafat, belakangan makin tidak
populer, elit, dan jauh dari kehidupan.
Seseorang mungkin melihat pola penilaian saya
di atas sebagai sesuatu yang tidak logis atau terlampau sederhana untuk
dijadikan sebagai sebuah alasan. Hanya saja jika hal itu dianggap sederhana. Maka
hal itu karena saya selalu menyadari, bahwa dalam filsafat, rasa bosan itu tidak
pernah menjadi hal yang sederhana.
Filsafat, tidak lain seni mengalami wisdom.
Ia begitu sederhana, dan bukan sesuatu yang jauh, sebaliknya sesuatu yang dekat,
hingga saking dekatnya, keberadaan filsafat terlibat dalam hidup itu sendiri. Di
sini filsafat menjadi fitrah, sesuatu yang tak terelakkan, ketika kita tak pernah
sanggup hidup dalam tanpa makna dan kebermaknaan.
***
Seseorang atau bahkan anda mungkin, boleh
saja tidak sependapat dengan pernyataan filsafat sebagai sesuatu yang fitrah.
Akan tetapi sebelum membantah, mari kita kontemplasikan, mengapa jauh sebelum mengenal
buku-buku etika, kita telah mengalami pertanyaan—pertanyaan etika? Mengapa jauh
sebelum mendengar filsafat, jiwa kita telah bertanya-tanya tentang makna
keberadaan diri?
Anda, saya (atau kita) sepanjang hari pernah bertanya-tanya
tentang apa itu baik, apa itu buruk, apa itu benar, dan apa itu salah. Kita bertanya-tanya
apa dan bagaimanakah buruk itu, apa dan bagaimanakah baik itu. Kemudian di hari
berikutnya, kita tiba-tiba gelisah dengan sesuatu hal yang begitu
ontologis; mulai dari apakah ada itu; apakah
tiada itu; apakah Tuhan itu, dan lain sebagainya. Di sini sekali lagi, mengapa
pertanyaan-pertanyaan itu bisa muncul, di waktu kita sama sekali belum pernah mendengar
apa dan bagaimana filsafat atau pun filsuf itu?
Tidak salah lagi. Semua itu bermula sebab filsafat
sebenarnya bukan sesuatu yang melangit. Sebaliknya filsafat itu begitu membumi,
mendasar, prinsipil dan sangat keseharian. Oleh karena itu, panggilan filsafat sama
maknanya dengan panggilan fitrah kita, sebagai makhluk yang tidak pernah bisa
hidup seperti binatang. Sayangnya, kefitrahan ini, kini, di hari ini lebih banyak dilihat sebagai aib dari hidup. Akibatnya
ia yang mulanya teramat dekat, kini menjadi jauh, dijauhkan dan dijauhi.
Di sini filsafat kemudian menjadi hal yang aneh,
ganjil. Filsafat bahkan menjadi lawakan serius yang tidak lucu. Dan jika
diamati, keganjilan tragis tersebut bukan
sesuatu yang bersifat given atau bawaan alami filsafat. Sebaliknya terhubung dengan apa yang dalam dunia kopi, kita sadari sebagai “seni
menyeduh kopi” disatu sisi, dan seni menikmati kopi, di sisi yang lain.
Filsafat, ternyata telah diseduh (ditulis,
dibaca, dinarasikan, serta disadari) dengan semangat dan cara yang jauh, dari kesan
adanya cinta dan intimitas. Maka tidak aneh, jika filsafat kemudian berakhir
menjadi spesies asing yang tidak dikenal. Filsafat menjadi hal yang asing, sekaligus
mengasingkan saat dinikmati para pecintanya.
Filsafat bernasib begitu tidak bijak. Ia seperti kopi yang dihindari oleh
para pecintanya. Filsafat bukan lagi ladang hijau yang menawan. Tetapi kedai
tua yang reyot, kusam, dan murung. Dinding-dindingnya
pucat dan luntur, serta jauh dari suka cita.
Maka menjadi tidak aneh jika di sudut kelas
suatu kampus, seorang mahasiswa melahirkan pertanyaan unik pada teman di
sampingnya yang kutu buku. “Untuk apa kita membaca buku filsafat, jika itu hanya
akan melahirkan kepedihan, keterasingan dan terjauhkan dari kehangatan hidup serta
suka cita? Adakah buku filsafat jauh lebih penting dari kehangatan suka cita
dalam hidup?
Meski terlihat sederhana tetapi pertanyaan
itu bukanlah pertanyaan yang mudah untuk dijawab oleh siapapun, termasuk si
kutu buku. Oleh karena itu mendapat
gugatan seperti itu, si kutu buku ini, bungkam dalam heran yang baru. Ia
bertanya-tanya, bagaimana bisa buku-buku filsafat yang dibaca dan ditekuni
selama ini, tiba-tiba sebab gugatan seseorang— yang ia sendiri bahkan tak
pernah melihatnya tengah membuka buku— berubah menjadi rongsokan tanpa guna. Kitab-kitab
filsafat seketika terlihat menjadi begitu lapuk, dan berantakan. “Ini hal sangat
tidak masuk akal” keluh si kutu buku lirih. “Hanya saja, gugatannya begitu teramat
nyata, bahkan terlalu tak terbantahkan oleh nalarku.”
***
Di sini, dalam kasus di atas, sebab buku— seseorang kemudian terhambat
melihat visi hidup dan visi filsafat dengan benar. Si kutu buku itu berpikir,
filsafat adalah apa yang tertulis dibuku, sedang temannya, menyadari filsafat sebagai
sesuatu yang terlibat dalam hidup itu sendiri. Maka benarlah adanya, jika untuk
menjadi falsafi, terkadang seseorang harus melampaui buku. Jika tidak, maka ia
akan terjebak, dan hidup dalam ruang buku yang terlihat seperti filsafat. Pelampauan
atas itu sendiri tidak kemudian bermakna bahwa buku tidaklah penting. Sebaliknya
justru memahami meletakkan urgensi buku dalam letak serta kadar kapasitas yang
memang seharusnya.
Buku— walau
bagaimana pun, bukanlah petunjuk. Ia hanyalah media atau wadah yang memuat
petunjuk. Sifat keberadaan buku tak berbeda dengan sifat keberadaan gelas bagi air.
Sedekat apa pun gelas bagi air, tetap saja gelas bukanlah air, dan air pun
bukanlah gelas. Gelas hanyalah salah satu wadah yang bisa digunakan untuk memuat
air. Dan air adalah sesuatu hal yang bisa dimuat gelas. Hanya saja, saat air termuat atau dimuat gelas,
sifat-sifat air pun kemudian mempengaruhi kondisi gelas. Jika air yang
dikandung gelas dingin, maka gelas pun menjadi dingin. Sebaliknya jika air yang
dikandung panas, maka gelas itu pun kemudian menjadi panas.
Dalam analogi gelas
dan air di atas, keberadaan buku pun mengalami kondisi-kondisi sebagaimana isi yang
diwadahinya. Jika hal yang diwadahi adalah filsafat, maka buku-buku itu pun
mengalami kondisi serta memerankan sifat-sifat serta peran yang sama dengan
sifat dan peran yang dikandung filsafat. Sebaliknya jika yang dimuat buku itu
adalah Politik misalnya, maka buku tersebut akan pula memiliki sifat serta
peran yang dibawa oleh Politik itu sendiri. Begitulah buku dan isinya. Setiap saat
ia selalu tak berbeda dengan gelas bagi air. Meski harus diakui, bahwa sifat
keberadaan buku dan isi yang dimuatnya memiliki analogi sifat jauh lebih
kompleks ketimbang keberadaan gelas bagi air.
Perbedaan itu ada
pada sifat keberadaan buku yang senantiasa bersifat representasional. Artinya
sebagai wadah, buku tidak pernah memiliki keberadaan mandiri, sebaliknya selalu
tergantung pada isi yang dikandungnya. Oleh sebab itu buku filsafat lebih akan dikenali
sebagai filsafat itu sendiri, ketimbang sebagai buku yang berisi filsafat. Ini
sangat berbeda dengan keberadaan gelas bagi air.
Dan sebab sifat
representatif ini, maka makna urgensi setiap buku kemudian selalu terkait
dengan urgensi isi yang dikandung buku. Semakin penting isi buku, maka semakin
penting pula keberadaan buku itu. Begitu juga sebaliknya, semakin remeh isinya, maka semakin remeh pula keberadaan buku tersebut.
***
Sementara keberadaan
buku-buku filsafat, secara umum sebenarnya begitu sangat penting bagi kehidupan
manusia. Urgensi ini muncul terkait urgensitas filsafat bagi hidup manusia. Dimana ia adalah sesuatu
yang fitrah. Hanya saja dalam banyak kasus, sifat urgensi tersebut kemudian
mengalami gradasi bahkan menjadi begitu tidak penting, terutama ketika penulis buku
filsafat, gagal di dalam melahirkan filsafat dalam dunia kata dan nalar.
Akibatnya isi buku
itu jauh dari ukuran yang bisa dipandang mampu mewakili filsafat itu sendiri. Di
sini maka buku filsafat yang dinilai jauh dari makna yang bisa disebut
filosofis. Bermula ketika buku filsafat
gagal memerankan peran filsafatnya inilah, filsafat pada perkembangannya disadari
sebagai sesuatu yang melangit. Filsafat dipandang sesuatu yang berat, tidak
sederhana serta disadari sia-sia. Filsafat menjadi pengetahuan asing, dan
mengasingkan siapapun yang membaca.
Bagi sebagian
kalangan yang berpandangan, bahwa tidak ada satu pun tanda yang salah,
sebaliknya pembaca tandalah yang keliru dalam membuat tafsir, hadirnya
buku-buku filsafat yang jauh dari ukuran filsafat ini, mungkin, tidak menjadi
soal yang serius. Hal itu disebabkan karena mereka telah mengembangkan
kemampuan baca dalam kombinasi yang begitu berlimpah.
Akan tetapi bagi
sebagian kita yang awam dalam kemampuan membaca, hadirnya buku-buku semacam
itu, justru menjadi awal dimana tragedi besar dimulai dengan cara begitu diam-diam.
Seseorang yang tertarik pada filsafat dan membaca buku filsafat justru kemudian
menjadi terjauhkan dari kebijaksanaan filsafat. Ini tentu sangat
memperihatinkan.
Buruknya gejala ini belakangan
makin menjadi menggejala umum. Di mana ketertarikan pada buku-buku filsafat tidak
membuat seseorang menjadi jauh tercerahkan atau menemukan visi hidup yang jauh
lebih baik, sebaliknya justru terperosok pada hidup yang makin terjauhkan dari
kebijaksanaan itu sendiri.
Di konteks ini,
pertanyaan untuk apa kita belajar filsafat menjadi pertanyaan penting yang
perlu dijawab, sama pentingnya dengan pertanyaan mengapa kita- umat manusia,
seiring dengan makin majunya pengetahuan tidak juga tumbuh menjadi diri yang
makin bertambah bijak. Apakah ketidakbijaksanaan adalah atribut primordial
manusia? Sehingga meski ia telah berlimpah pengetahuan sekali pun, ia tetap
menjadi sosok yang selalu mengalami ketidakbijaksanaan?
Dalam rangka
kepedihan serta kegelisahan seperti itulah-- di sini saya berkesimpulan,
bahwa buku filsafat tidak bisa ditulis, dengan hanya mengabarkan tentang
sejarah pemikiran filsafat, yang berisi teori-teori pemikiran semata. Akan tetapi
juga harus berisi tentang bagaimana seni mengalami hidup yang falsafi.
Dengan begitu buku
filsafat tidak menjadi kitab alien yang hanya bisa dibaca oleh masyarakat alien;
sebaliknya menjadi kitab hidup, yang membaca setiap diri makin mengenali
berbagai hal yang asing, serta mengasingkan. Bukan sebaliknya justru makin jauh
merebut seseorang dalam rasa apatismenya. Di mana setiap waktu ia kemudian selalu menyadari
filsafat sebagai sesuatu yang sia-sia.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar