Sabtu, 07 Februari 2015

TUJUH CAHAYA YUNANI

TUJUH

CAHAYA YUNANI

 

Seri Sejarah Filsafat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

by  TEGUH WANGSA GANDHI HW

 




DAFTAR ISI

Prelude
BAGIAN I 
Hos Philosopheon

Penyair, Sophis dan Filsuf
Mengenal Filsafat
Jalan menuju Filsafat
Muasal Lahirnya Filsafat
Lahirnya Filsafat di Yunani

BAB II 
Sejarah Tujuh dari Yunani

Tujuh Sophis dan Apkullu
Tujuh Sophis dan Nimbus
Tujuh Sophis dan Legenda Delphian
Makna Nimbus Tujuh

 

BAB III 

Tujuh Sophis dari Yunani

Thales dari Miletos
Solon dari Athena
Chilon dari Sparta
Pittacus dari Mytilene
Bias dari Priene, Ionia
Cleobulus dari Lindus
Epimendes

 

 

 

ENLUDE

BIBLIOGRAPHY

BIOGRAFI PENULIS



Prelude
***
…serat juga kitab-kitab itu, sesungguhnya, ditulis bukan untuk menjadi batas. Sebaliknya untuk membuatmu mampu menyibak batas. Karenanya, janganlah ia membuat pandangmu menjadi mati. Sebab hidup itu sejatinya selalu kenyataan yang jauh melampaui kitab mana pun yang pernah ditintakan…”
Menulis, pada khususnya menulis semacam buku filsafat, rasanya, selalu tak berbeda dengan belajar seni menyeduh kopi. Jika terlalu banyak kopinya, ia akan terasa pahit dan tidak enak. Sebaliknya jika terlalu banyak gula, citarasa kopi akan pula menjadi hilang. Kita butuh sesuatu yang bernama ketepatan, terutama saat memadu padankan gula dan kopi. Berapa perbandingan kadarnya, bagaimana pola aduknya, semua itu harus dipahami  dengan baik.
Sebagian kalangan misalnya ada yang memandang terdapat seni seduh yang maskulin dan ada pula yang feminin. Mereka yang menyukai cita rasa maskulin, konon harus jauh lebih berani dalam menentukan kadar kopinya. Dengan begitu, citarasa kopinya akan terasa jauh lebih dekat, dan lebih kuat dalam membalut manisnya gula. Sedang bagi mereka yang suka cita rasa kopi yang ringan bisa memperolehnya dengan cara sebaliknya, dimana komposisi gula jauh lebih banyak ketimbang kopinya.
Dan perlu diingat, tiap cangkir kopi yang baik dan nikmat, selalu butuh kadar air yang benar-benar panas. Sebab hanya dalam air yang benar-benar panaslah, gula dan kopi mampu larut, begitu satu, leleh dalam rasa saling meliputi, antara satu dan lainnya. Disitulah, kita akan menemukan nikmatnya kopi, dan kopi pun siap untuk dinikmati.
Begitulah kopi. Dan tentu saja, kopi bukan buku, terlebih buku filsafat. Saya pun harus mengakui, bahwa filsafat juga tidak pernah bisa disimplifikasikan sebagai kopi. Hanya saja dalam soal “taste” atau citarasa, menulis filsafat rasanya memiliki hukum tak berbeda dengan menyeduh kopi.[1] Terdapat penulis yang jauh lebih2 menyukai seni penulisan sejarah dengan pola datar, linear, dan  ada pula yang lebih memilih narasi dramatik, di mana peristiwa-peristiwa sejarah filsafat terurai tidak secara linear, akan tetapi sarat dengan emosi.
Hegel misalnya, menurut saya — termasuk jenis penulis sejarah yang menyukai paparan dramatis dan metaforik ketimbang linear, meski bersamaan dengan itu ia terlihat ketat, dan konsisten dengan teori filsafat sejarah yang dibangunnya. Akan berbeda jika kita melihat para penulis sejarah di Indonesia yang umumnya menulis sejarah, dengan paparan datar dan linear. Keduanya memang memiliki kelebihan juga kekurangan sendiri-sendiri. Tetapi bagi saya penulisan sejarah dengan pola linear, jauh lebih berkesan hanya menegaskan deretan peristiwa-peristiwa yang sudah mati belaka, mekanistik, serta jauh dari ukuran mampu menyentuh hidup itu sendiri.
Ini misalnya, salah satunya bisa ditamsilkan dalam penulisan buku-buku sejarah filsafat. Di mana pola-pola yang dipakai cenderung kaku, sehingga ta berbeda dengan diktat atau resum. Pola ini sepertinya lebih banyak sisi buruknya ketimbang manfaat yang dibawa. Selain begitu informatif, ia juga sangat membosankan siapa pun. Dan saya meletakkan hal ini sebagai salah satu penyebab yang membuat filsafat, belakangan makin tidak populer, elit, dan jauh dari kehidupan.
Seseorang mungkin melihat pola penilaian saya di atas sebagai sesuatu yang tidak logis atau terlampau sederhana untuk dijadikan sebagai sebuah alasan. Hanya saja jika hal itu dianggap sederhana. Maka hal itu karena saya selalu menyadari, bahwa dalam filsafat, rasa bosan itu tidak pernah menjadi hal yang sederhana.
Filsafat, tidak lain seni mengalami wisdom. Ia begitu sederhana, dan bukan sesuatu yang jauh, sebaliknya sesuatu yang dekat, hingga saking dekatnya, keberadaan filsafat terlibat dalam hidup itu sendiri. Di sini filsafat menjadi fitrah, sesuatu yang tak terelakkan, ketika kita tak pernah sanggup hidup dalam tanpa makna dan kebermaknaan.
***
Seseorang atau bahkan anda mungkin, boleh saja tidak sependapat dengan pernyataan filsafat sebagai sesuatu yang fitrah. Akan tetapi sebelum membantah, mari kita kontemplasikan, mengapa jauh sebelum mengenal buku-buku etika, kita telah mengalami pertanyaan—pertanyaan etika? Mengapa jauh sebelum mendengar filsafat, jiwa kita telah bertanya-tanya tentang makna keberadaan diri?
Anda, saya (atau kita) sepanjang hari pernah bertanya-tanya tentang apa itu baik, apa itu buruk, apa itu benar, dan apa itu salah. Kita bertanya-tanya apa dan bagaimanakah buruk itu, apa dan bagaimanakah baik itu. Kemudian di hari berikutnya, kita tiba-tiba gelisah dengan sesuatu hal yang begitu ontologis;  mulai dari apakah ada itu; apakah tiada itu; apakah Tuhan itu, dan lain sebagainya. Di sini sekali lagi, mengapa pertanyaan-pertanyaan itu bisa muncul, di waktu kita sama sekali belum pernah mendengar apa dan bagaimana filsafat atau pun filsuf itu?
Tidak salah lagi. Semua itu bermula sebab filsafat sebenarnya bukan sesuatu yang melangit. Sebaliknya filsafat itu begitu membumi, mendasar, prinsipil dan sangat keseharian. Oleh karena itu, panggilan filsafat sama maknanya dengan panggilan fitrah kita, sebagai makhluk yang tidak pernah bisa hidup seperti binatang. Sayangnya, kefitrahan ini, kini, di hari ini  lebih banyak dilihat sebagai aib dari hidup. Akibatnya ia yang mulanya teramat dekat, kini menjadi jauh, dijauhkan dan dijauhi.
Di sini filsafat kemudian menjadi hal yang aneh, ganjil. Filsafat bahkan menjadi lawakan serius yang tidak lucu. Dan jika diamati,  keganjilan tragis tersebut bukan sesuatu yang bersifat given atau bawaan alami filsafat. Sebaliknya terhubung dengan apa  yang dalam dunia kopi, kita sadari sebagai “seni menyeduh kopi” disatu sisi, dan seni menikmati kopi, di sisi yang lain.
Filsafat, ternyata telah diseduh (ditulis, dibaca, dinarasikan, serta disadari) dengan semangat dan cara yang jauh, dari kesan adanya cinta dan intimitas. Maka tidak aneh, jika filsafat kemudian berakhir menjadi spesies asing yang tidak dikenal. Filsafat menjadi hal yang asing, sekaligus mengasingkan saat dinikmati para pecintanya.
Filsafat bernasib begitu tidak bijak. Ia seperti kopi yang dihindari oleh para pecintanya. Filsafat bukan lagi ladang hijau yang menawan. Tetapi kedai tua yang reyot, kusam, dan  murung. Dinding-dindingnya pucat dan luntur, serta jauh dari suka cita.
Maka menjadi tidak aneh jika di sudut kelas suatu kampus, seorang mahasiswa melahirkan pertanyaan unik pada teman di sampingnya yang kutu buku. “Untuk apa kita membaca buku filsafat, jika itu hanya akan melahirkan kepedihan, keterasingan dan terjauhkan dari kehangatan hidup serta suka cita? Adakah buku filsafat jauh lebih penting dari kehangatan suka cita dalam hidup?
Meski terlihat sederhana tetapi pertanyaan itu bukanlah pertanyaan yang mudah untuk dijawab oleh siapapun, termasuk si kutu buku. Oleh karena  itu mendapat gugatan seperti itu, si kutu buku ini, bungkam dalam heran yang baru. Ia bertanya-tanya, bagaimana bisa buku-buku filsafat yang dibaca dan ditekuni selama ini, tiba-tiba sebab gugatan seseorang— yang ia sendiri bahkan tak pernah melihatnya tengah membuka buku— berubah menjadi rongsokan tanpa guna. Kitab-kitab filsafat seketika terlihat menjadi begitu lapuk, dan berantakan. “Ini hal sangat tidak masuk akal” keluh si kutu buku lirih. “Hanya saja, gugatannya begitu teramat nyata, bahkan terlalu tak terbantahkan oleh nalarku.”
***
Di sini, dalam kasus di atas, sebab buku— seseorang kemudian terhambat melihat visi hidup dan visi filsafat dengan benar. Si kutu buku itu berpikir, filsafat adalah apa yang tertulis dibuku, sedang temannya, menyadari filsafat sebagai sesuatu yang terlibat dalam hidup itu sendiri. Maka benarlah adanya, jika untuk menjadi falsafi, terkadang seseorang harus melampaui buku. Jika tidak, maka ia akan terjebak, dan hidup dalam ruang buku yang terlihat seperti filsafat. Pelampauan atas itu sendiri tidak kemudian bermakna bahwa buku tidaklah penting. Sebaliknya justru memahami meletakkan urgensi buku dalam letak serta kadar kapasitas yang memang seharusnya.
            Buku— walau bagaimana pun, bukanlah petunjuk. Ia hanyalah media atau wadah yang memuat petunjuk. Sifat keberadaan buku tak berbeda dengan sifat keberadaan gelas bagi air. Sedekat apa pun gelas bagi air, tetap saja gelas bukanlah air, dan air pun bukanlah gelas. Gelas hanyalah salah satu wadah yang bisa digunakan untuk memuat air. Dan air adalah sesuatu hal yang bisa dimuat gelas.  Hanya saja, saat air termuat atau dimuat gelas, sifat-sifat air pun kemudian mempengaruhi kondisi gelas. Jika air yang dikandung gelas dingin, maka gelas pun menjadi dingin. Sebaliknya jika air yang dikandung panas, maka gelas itu pun kemudian menjadi panas.  
            Dalam analogi gelas dan air di atas, keberadaan buku pun mengalami kondisi-kondisi sebagaimana isi yang diwadahinya. Jika hal yang diwadahi adalah filsafat, maka buku-buku itu pun mengalami kondisi serta memerankan sifat-sifat serta peran yang sama dengan sifat dan peran yang dikandung filsafat. Sebaliknya jika yang dimuat buku itu adalah Politik misalnya, maka buku tersebut akan pula memiliki sifat serta peran yang dibawa oleh Politik itu sendiri. Begitulah buku dan isinya. Setiap saat ia selalu tak berbeda dengan gelas bagi air. Meski harus diakui, bahwa sifat keberadaan buku dan isi yang dimuatnya memiliki analogi sifat jauh lebih kompleks ketimbang keberadaan gelas bagi air.  
            Perbedaan itu ada pada sifat keberadaan buku yang senantiasa bersifat representasional. Artinya sebagai wadah, buku tidak pernah memiliki keberadaan mandiri, sebaliknya selalu tergantung pada isi yang dikandungnya. Oleh sebab itu buku filsafat lebih akan dikenali sebagai filsafat itu sendiri, ketimbang sebagai buku yang berisi filsafat. Ini sangat berbeda dengan keberadaan gelas bagi air.
            Dan sebab sifat representatif ini, maka makna urgensi setiap buku kemudian selalu terkait dengan urgensi isi yang dikandung buku. Semakin penting isi buku, maka semakin penting pula keberadaan buku itu. Begitu juga sebaliknya,  semakin remeh isinya,  maka semakin remeh pula keberadaan buku tersebut.
***
            Sementara keberadaan buku-buku filsafat, secara umum sebenarnya begitu sangat penting bagi kehidupan manusia. Urgensi ini muncul terkait urgensitas  filsafat bagi hidup manusia. Dimana ia adalah sesuatu yang fitrah. Hanya saja dalam banyak kasus, sifat urgensi tersebut kemudian mengalami gradasi bahkan menjadi begitu tidak penting, terutama ketika penulis buku filsafat, gagal di dalam melahirkan filsafat dalam dunia kata dan nalar.
            Akibatnya isi buku itu jauh dari ukuran yang bisa dipandang mampu mewakili filsafat itu sendiri. Di sini maka buku filsafat yang dinilai jauh dari makna yang bisa disebut filosofis.  Bermula ketika buku filsafat gagal memerankan peran filsafatnya inilah, filsafat pada perkembangannya disadari sebagai sesuatu yang melangit. Filsafat dipandang sesuatu yang berat, tidak sederhana serta disadari sia-sia. Filsafat menjadi pengetahuan asing, dan mengasingkan siapapun yang membaca.
            Bagi sebagian kalangan yang berpandangan, bahwa tidak ada satu pun tanda yang salah, sebaliknya pembaca tandalah yang keliru dalam membuat tafsir, hadirnya buku-buku filsafat yang jauh dari ukuran filsafat ini, mungkin, tidak menjadi soal yang serius. Hal itu disebabkan karena mereka telah mengembangkan kemampuan baca dalam kombinasi yang begitu berlimpah.
            Akan tetapi bagi sebagian kita yang awam dalam kemampuan membaca, hadirnya buku-buku semacam itu, justru menjadi awal dimana tragedi besar dimulai dengan cara begitu diam-diam. Seseorang yang tertarik pada filsafat dan membaca buku filsafat justru kemudian menjadi terjauhkan dari kebijaksanaan filsafat. Ini tentu sangat memperihatinkan.
            Buruknya gejala ini belakangan makin menjadi menggejala umum. Di mana ketertarikan pada buku-buku filsafat tidak membuat seseorang menjadi jauh tercerahkan atau menemukan visi hidup yang jauh lebih baik, sebaliknya justru terperosok pada hidup yang makin terjauhkan dari kebijaksanaan itu sendiri.    
            Di konteks ini, pertanyaan untuk apa kita belajar filsafat menjadi pertanyaan penting yang perlu dijawab, sama pentingnya dengan pertanyaan mengapa kita- umat manusia, seiring dengan makin majunya pengetahuan tidak juga tumbuh menjadi diri yang makin bertambah bijak. Apakah ketidakbijaksanaan adalah atribut primordial manusia? Sehingga meski ia telah berlimpah pengetahuan sekali pun, ia tetap menjadi sosok yang selalu mengalami ketidakbijaksanaan?
            Dalam rangka kepedihan serta kegelisahan seperti itulah­­-- di sini saya berkesimpulan, bahwa buku filsafat tidak bisa ditulis, dengan hanya mengabarkan tentang sejarah pemikiran filsafat, yang berisi teori-teori pemikiran semata. Akan tetapi juga harus berisi tentang bagaimana seni mengalami hidup yang falsafi.
            Dengan begitu buku filsafat tidak menjadi kitab alien yang hanya bisa dibaca oleh masyarakat alien; sebaliknya menjadi kitab hidup, yang membaca setiap diri makin mengenali berbagai hal yang asing, serta mengasingkan. Bukan sebaliknya justru makin jauh merebut seseorang dalam rasa apatismenya.  Di mana setiap waktu ia kemudian selalu menyadari filsafat sebagai sesuatu yang sia-sia.
***



[1] Christopher Philips, Socrates Café: A Fresh Taste of Philosophy, Jakarta: Gramedia, 2001 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar